Februari 2011

Setelah dipindah ke post pendidikan, aku jadi sibuk sekali. Awalnya tidak, tetapi setelah  pemimpin redaksi mengeluarkan kebijakan baru berupa penambahan halaman pendidkan menjadi dua halaman, waktuku dihabiskan lapangan-kantor. Pulang ke asrama bisa dikatakan hanya mandi, ganti baju, dan istirahat hanya satu sampai dua jam saja.

Dua halaman itu, satu dikhususkan untuk berita pendidikan yang mengulas kasus yang terjadi di dunia pendidikan, satunya lagi mengulas berita dengan tema-tema tertentu. Pimred menyebutnya berita pendidikan tematik.

Bertambahnya halaman ada keuntungan sendiri. Dalam satu hari aku bisa dapat banyak berita. Setiap hari aku bisa membuat 7 hingga 10 berita sekaligus. Luar biasa banyak bukan. Untuk dapat sampai 10 berita ini aku terjun ke lapangan setelah rapat proyeksi, pukul 10.00 wib dan pulang pukul 17.00 wib. Walaupun redaksi membuat peraturan pukul 16.00 wib kami para wartawan sudah pulang kantor dan menyetor tulisan.

Senang rasanya bisa menghasilkan berita sebanyak ini. Berbeda sekali ketika di pos kriminal. Satu berita saja bersyukur sekali. Pos pendidikan juga jauh lebih enak, karena banyak bertemu dengan para akademisi. Mereka semua ramah-ramah sekali. Kebanyakan dari mereka adalah dosen-dosenku dulu.

Kenyamanan itu tak berlangsung lama. Hidup adakalanya berada pada titik yang nyaman, adakalanya juga berada pada titik yang sangat tidak nyaman. Banyak yang mengistilahkan ini zona comfort dan uncomfort. Keduanya saling bergantian.

Akhir tahun 2011 secara mengejutkan walikota Bandar Lampung mem-black list koran kami. Sebagai koran yang memiliki oplah terbesar di Lampung, Radar Lampung merugi. Jauh mengerikan lagi, walikota mengeluarkan warning lembaga pemerintahan yang berada di bawah pemerintah kota (pemkot), tidak boleh menerima atau memberikan informasi apapun kepada wartawan Radar Lampung. Pengaruh besar terjadi padaku, karena mayoritas narasumberku adalah para kepala sekolah, guru, dan kepala dinas pendidikan kota. Akses untuk mendapatkan beritapun hanya dilingkup kampus.

Situasi ini sungguh sulit buatku. Pernah wakil kepala dinas pendidikan kota mengusirku di depan para wartawan. Mendadak aku jadi selebritis karena kasus ini masuk ke halaman pertama koran.

Satu bulan, dua bulan kondisi belum juga berubah. Tidak ada tanda-tanda damai antara kedua belah pihak. Walikota itu belum juga jinak meskipun direksi telah melakukan lobi-lobi. Aku semakin tak tahan dengan kondisi ini. Aku kesulitan menembus sekolah-sekolah dan dinas pendidikan pemkot. Beritaku standar sekali, sedangkan wartawan koran lain mendapatkan berita-berita bagus.

Dalam kondisi yang sangat menyulitkan itu, Meta, mantan wartawan Radar Lampung yang sudah lama resign menelponku. Bertanya kabar dan bertegur sapa. Ketiku tanya balik tentang kabarnya, Meta bercerita dirinya sedang berada di kampung inggris yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur bersama teman kuliahku, Caca.

Kampung Inggris?

Mendengar ini, aku langsung penasaran. Meta bilang ini bukan kampung yang isinya orang bule. Melainkan kampung dengan banyak tempat kursus bahasa inggris. Meta dan Caca berencana kursus disana sebulan.

Cerita meta mengganggu pikiranku. Sangat menarik sekali apa spesial dari tempat ini. Kenapa mereka rela jauh-jauh pergi ke ujung jawa hanya demi belajar bahasa inggris.

Akupun segera menuju komputerku. Ku cari di google tentang kampung inggris. Rupanya kursus bahasa inggris di sini murah sekali. Beberapa tempat kursus ada yang menawarkan program kursus khusus speaking, listening, grammar, TOEFL dan TOEIC secara terpisah. Ada juga yang satu paketan dengan dua pilihan waktu. Per dua minggu dan bulanan.

Biayanya tentu berbeda. Untuk yang per dua minggu berkisar Rp. 25 ribu – Rp. 100 ribu. Untuk bulanan berkisar Rp. 100 ribu – Rp. 250 ribu. Kemudian untuk tempat tinggal ada dua tipe juga; camp area inggris dan tak  inggris. Yang inggris lebih mahal dibandingkan yang tak inggris.

Menariknya biaya hidup disini murah sekali, dari makanan yang terjangkau hingga barang-barang yang murah. Sedangkan untuk transportasi yang dipakai adalah sepeda. Kebayang kan, gimana kerennya ini kampung. Berasa seperti negeri van de orange nan jauh disana, Belanda. Aku tertarik ke tempat ini. Diam-diam aku tergiur dan ingin sekali kesana. Meta ..  Caca … Wait me!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *