September 2011

Kediri indah sekali malam itu. Lampu-lampu berjejer rapi di sepanjang jalan. Aspal yang halus, kendaraan yang tak padat, dan tata ruang kota yang rapi membuatku terkagum-kagum. Ada monumen bergaya bagunan Eropa berdiri di tengah kota yakni Monumen Simpang Lima Gumul yang memang meniru Arch de Triomphe di Paris.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Bus yang kami tumpangi rupanya tidak melewati kampung inggris. Sedangkan bus atau angkutan umum menuju kampung inggris hanya sampai pukul 7. Sontak aku dan Tika dibuatnya bingung. Oleh supir kami diturunkan di terminal bus Kediri.

Beruntung sekali saat kami turun ada bus menuju kampung inggris. Ini adalah bus terakhir. Sungguh kami beruntung sekali. Koper berat itu kami keluarkan dan diangkut ke dalam bus oleh kondektur. Aku dan Tika duduk dekat pintu.

Sekitar pukul 7.30 malam kami sampa di desa Tulung Rejo. Desa dengan beratus-ratus lembaga kursus. Ya benar saja, saat kami turun dan naik becak, berjejer rumah dengan plang nama kursus menyambut kami.

Kondisi kampung inggris saat itu sepi. Hujan mengguyur kampung inggris malam itu. Sebuah pesan masuk di telepon genggamku. Meta telah menunggu kami di depan pintu gerbang BEC, lembaga kursus tertua di Kediri.

Tiba di depan BEC, Meta menyambutku dengan ramah sekali. Aku dan Tika pun diboyong ke tempat kostnya di belakang BEC. Merasa bersyukur sekali tiba dengan selamat, aku menghubungi Ibu. “Ibu aku sudah sampai di Pare baru saja. Doakan aku ya bu, selama sebulan ini aku akan belajar disini”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *