Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri, Jawa Timur
Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri, Jawa Timur

Sedari pagi Miss Zulva sibuk mondar-mandir di ruang tengah. Jari-jemarinya yang lentik asik memainkan handphone kemudian menempelkan ke daun telinganya. Weekend itu kami berencana mengunjungi Monumen Simpang Lima Gumul di Kota Kediri dan mengajak keluarga Zeal lainnya. Miss Zulva sebagai pencetus ide, kali ini juga menjadi penanggung jawab untuk menghubungi pengurus Zeal lain juga mencari transportasi.

Rencana awal kita hendak menggunakan angkutan umum, tapi rupanya kesulitan bagi Miss Zulva mencari angkutan umum yang sesuai dengan budget kami. Dia seolah tak kehabisan akal, lalu menghubungi pemilik odong-odong di Pare. Menurutnya tak hanya murah, transportasi ini juga mengasikkan.

Setelah melakukan lobi-lobi yang cukup sengit dan panjang menjelang siang Miss Zulva berhasil membuat deal dengan pemilik odong-odong dan cukup mengenaskan. Ongkos yang perlu kami siapkan per-orang hanya 5000, harga yang terbilang sangat murah.

Sore setelah sholat Ashar, dua odong-odong sudah datang dan menunggu kami di depan Zeal 2. Miss Zulva memburu kami untuk segera bersiap-siap. Rupanya penghuni asrama Zeal 1 putra dan Zeal 2 putri sudah berkumpul.

Sekitar pukul 16.30 waktu Pare kami berangkat. Odong-odong itu panjang sekali seperti kereta yang kerap kita jumpai di pasar malam. Mampu menampung kami yang jumlahnya mencapai puluhan. Meskipun jalannya sangat pelan, namun melakukan perjalanan menggunakan odong-odong itu mengasikkan. Jendela yang tanpa batas membuat angin bebas keluar masuk dan pemandangan Pare dan Kediri terhampar luas di depan mata kami.

Tepat azan magrib kami tiba. Monumen Simpang Lima Gumul saat itu berdiri megah berwarna keemasan dari kejauhan. Indah sekai, kami yang baru saja tiba tak menyiakan kesempatan ini untuk berfoto bersama.

Sebelumnya aku pernah melihat monumen ini saat pertama kali tiba di Kediri. Bangunan yang menjulang tinggi bak kardus ini mirip sekali dengan monumen Arc de Triomphe yang terletak di Bukit Chaillot, Paris. Aku semakin tak asing lagi dengan bangunan ini, beberapa bulan yang lalu, aku mendapati temanku Irfan berfoto di depan Arc de Triomphe ketika mengunjungi Paris. Foto itu dipajangnya di facebook, aku terkagum-kagum.

Monumen Simpang Lima Gumul memiliki ketinggan 28 meter, terletak di kecamatan Gampengrejo, Kediri yang sebenarnya jauh dari Kota Kediri. Tapi bangunan ini menjadi titik pertemuan dari lima jalur yang menghubungkan beberapa wilayah di sekitar Kediri, yaitu Malang dan Plosoklaten dari arah timur, Kota Kediri dari arah barat, Blitar dari arah selatan, dan Jombang dari arah utara. Tak heran kini monumen ini menjadi landmark Kota Kediri dan menjadi pemasukkan bagi pemerintah kota.

Sebelum masuk ke monumen ini, sebelumnya kita harus melewati lorong yang sangat panjang terlebih dahulu. Lorong ini ada dibawah tanah. Lampu-lampu menghiasi lorong sehingga tampak benderang dan jauh dari kesan menyeramkan. Aku dan teman-teman kembali berfoto bersama disini.

Sebuah lorong di Monumen Simpang Lima Gumul
Sebuah lorong di Monumen Simpang Lima Gumul

Keluar dari lorong, maka kita akan disambut dengan hamparan rumput yang hijau, pohon sawit yang tumbuh rapih mengeliling monumen, dan lampu-lampu yang jika malam hari terlihat sangat cantik sekali.

Meskipun desain dan aristektur Monumen Simpang Lima Gumul mirip sekali dengan monumen Arc de Triomphe. Namun, ornamennya menonjolkan seni budaya Kediri. Relief-relief yang menceritakan sejarah, kesenian, dan kebudayaan Kediri menempel di sisi-sisi monumen.

Setelah puas berfoto bersama, kami pun memutuskan untuk berwisata kuliner. Sebab saat malam, banyak pedangan makanan yang menjajakan makanan mereka di area yang memang sudah disiapkan oleh pemerintah. Untuk itu kamipun keluar dari monumen dan melewati lorong yang panjang lagi.

Suasana malam itu indah sekali. Area yang sangat luas dan dipenuhi dengan pedagang itu tampak seperti pasar malam. Aku dan beberapa teman duduk-duduk tertawa bercanda sembari memesan gurame bakar. Beberapa menit kemudian gurame pun datang. Kami dikejutkan dengan ukuran gurame yang sangat besar sekali. Meski awalnya bingung bagaimana cara memakannya dan bertanya-tanya apakah bisa habis atau tidak, gurame itu pun berhasil kami lahap karena rasanya ternyata sangat lezat. Yang lebih mengejutkan lagi harga gurame dengan nasi dan sambal hanya Rp. 11 ribu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *