230031_155011881232103_937800_n
Di depan asrama putri Zeal 1, Pare

Perjalanan yang tak terduga ke Mojokerto semakin menyadarkanku bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya. Aku yakin bahwa semua memiliki arti dan Tuhan mengerti yang terbaik buat umatnya. Termasuk keberadaanku di asrama Zeal yang terletak di Jalan Brawijaya, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri ini.

Asrama putri Zeal yang mewajibakan penghuninya berbahasa inggris ini terletak sangat strategis sekali. Di pinggir jalan dan diantara lembaga kursus yang terkenal yakni ELFAST dan LOGICO. Bangunan asramanya moderen dengan parkir sempit disisi sebelah kanan rumah dan memiliki dua lantai. Konon, ini salah satu asrama tebaik di Kampung Inggris. Yang ingin mahir bahasa inggris dengan cepat Zeal adalah tempatnya. Karena memiliki sistem pengajaran yang bagus, ketat, dan tenaga pengajar yang sudah berpengalaman. Tak heran jika Zeal menjadi primadona bagi orang-orang yang ingin serius belajar bahasa inggris dengan singkat.

Di Pare, asrama Zeal ada sebanyak empat. Zeal 1 female, Zeal 1 male, Zeal 2 female, dan Zeal 2 male. Keempat asrama masih satu pemilik yang juga pemilikĀ  lembaga bahasa inggris WEBSTER. Di musim liburan asrama ini selalu penuh, sehingga harus cepat booking.

Mengetahui itu, sore setelah dari Mojokerto, aku dan Tika langsung menuju ke WEBSTER untuk melunasi pembayaran. Sebelumnya Tika sudah membookingnya dan membayar DP Rp. 100 ribu. Beruntung kami masih kebagian kamar meskipun di Zeal 1. Sebenarnya kami ingin sekali di Zeal 2. Tapi apa boleh buat kami kalah cepat. Sudahlah .. aku berkali-kali meyakini diri bahwa pasti ini sudah Tuhan rencanakan.

Malam hari diantar Meta menggunakan sepeda motor, aku dan Tika menuju Zeal. Suasana Zeal waktu itu sepi sekali. Para anggota sedang ada kegiatan di luar. Koper kami angkat ke lantai dua. Seorang wanita yang sudah tua mengantarkan kami ke lantai dua. Wanita yang akrab dipanggil mbah itu bercerita rumah itu milik anaknya yang disewakan kepada pemilik WEBSTER dan pemilik hanya menyewa satu lantai saja yakni lantai dua. Sedangkan mbah tinggal di lantai satu sendiri. Sesekali anak-anaknya pun datang.

Pukul 9 malam, penghuni asrama Zeal pulang. Ada sekitar 20-an. Aku canggung dan malu ketika bertemu mereka. Mereka cantik-cantik dan kebanyakan datang dari Jakarta. Miss Zulfa, pengurus asrama menyapa kami dengan ramah. Sayang malam itu, kami belum bisa tidur di lantai dua, karena ada beberapa anggota Zeal yang akan pindah asrama atau pulang kampung belum mengepak barang-barangnya. Sementara waktu, aku dan Tika menempati kamar kosong di lantai satu.

Keesokan harinya, kami kedatangan teman baru. Namanya Miss Eha dari Jakarta. Cantik, tinggi dan ramah sekali. Dia menceritakan alasannya datang ke Pare, karena mengisi waktu setelah resign dari Bank Mandiri dan putus cinta. Selama seminggu kami pun tinggal di lantai satu menemani mbah.

Ada enak dan nggak enaknya sih. Nggak enaknya setiap hari kami harus naik turun ke lantai dua, karena kami belajar dan mandi di lantai dua. Enaknya bisa nonton tivi, ngobrol sama mbah dan menikmati harum sambal dan nasi goreng yang mbah buat setiap pagi.

Seminggu pun berlalu. Beberapa anggota Zeal lama berpamitan pulang. Aku , Tika, dan Miss Eha dipersilahkan untuk tidur di lantai dua. Miss Zulfa dengan segala kerendahan hatinya meminta maaf kepada kami. Karena harus tidur di lantai satu, terpisah dan terasing dari mereka selama ini.

Aku, Tika, dan Miss Eha tidur dikamar yang terpisah. Satu kamar ada empat orang yang rupanya datang dari berbagai wilayah. Ada dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Lombok, Bawean, Lamongan, dan lain-lain. Semuanya membaur layaknya sudah mengenal lama.

230031_155011894565435_1659366_n
Jogging bersama keluarga Zeal 1

Jadwal kami sangat padat. Subuh anggota dibangunkan satu persatu untuk sholat subuh berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan hafalan vocab. Sehabis subuh kita kursus di luar. Zeal kerap mengadakan kursus gratis di jam-jam kursus kami. Yang tidak ada kursus diwajibkan datang. Sore setelah sholat magrib kita hafalan vocab lagi dilanjutkan dengan belajar bahasa inggris sampai jam 9 malam. Tentunya berbeda dengan kursus di luaran sana. Kami belajar sambil bermain game. Di akhir pekan kita diliburkan. Beberapa anggota yang tinggal masih di wilayah Jawa Timur biasanya pulang kampung. Yang tak pulang kampung biasanya waktu ini digunakan untuk istirahat, menonton tivi, belajar, jalan-jalan dan shooping. Sering kita membuat agenda jogging bersama. Zeal juga kerap mengadakan gathering untuk mengakrabkan kami.

Gathering Keluarga Zeal di Masjid An Nuer Pare
Gathering Keluarga Zeal di Masjid An Nuer Pare

Masa-masa ini takkan pernah kami lupakan. Kami datang dari wilayah yang berbeda membawa semangat dan mimpi yang sama. Mungkin ini yang membuat kita sangat solid. Dan tentunya sedih jika waktu yang mengharuskan kita segera pulang. Di akhir periode belajar kami selalu membuat prom night. Air mata seringkali berlinang. Tak lupa kita mengabadikan momen kebersamaan kita melalui lensa.

Ada banyak hal yang akan selalu membuat kami ingin kembali ke tempat ini. Tak hanya keramahan penduduknya, sejuknya udara, aneka makanan yang murah dan lezat juga harum dan nikmatnya sambel mbah yang selalu menemani kami saat makan.

Ada yang membuat kami selalu rindu tempat ini, yakni sambel mbah. Mbah ... Sambel!
Ada yang membuat kami selalu rindu tempat ini, salah satunya sambel mbah yangkelezatannya tak kami temukan dimana-mana. Mbah … Sambel!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *