Istana Cipanas merupakan salah satu dari enam Istana kepresidenan yang ada di Indonesia. Terletak di desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, istana ini menjadi istana tertua yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Pemandu wisata khusus untuk Istana Presiden Cipanas, Heru Setiawan mengatakan istana yang memiliki luas 26 hektar ini, awalnya berupa bangunan pribadi yang dibangun pada 1740 oleh tuan tanah Belanda Van Heots. Namun, karena daya tarik sumber air panasnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff dibangunlah gedung kesehatan.

“Air panas di Cipanas awal mulanya ditemukan oleh masyarakat. Kemudian mereka melaporkannya kepada pemerintah Belanda. Setelah diteliti ternyata sumber air panas di sini (Istana Cipanas) mengandung garam zat besi, belerang yang bisa menyembuhkan penyakit. Sehingga pada 1743 oleh Baron van Imhoff dibangunlah gedung kesehatan yang diperuntukkan untuk para pejabat dan gubernur,” papar Heru, Minggu (7/9) di Istana Cipanas.

Gedung induk Istana Kepresidenan Cipanas, Bogor. Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil gambar bagian luar istana.
Gedung induk Istana Kepresidenan Cipanas, Bogor. Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil gambar bagian luar istana.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut tetap difungsikan sebagai tempat peristirahatan bagi presiden dan wakil presiden beserta keluarganya. Tak hanya itu, Istana Cipanas juga dijadikan sebagai tempat untuk menerima tamu negara. “Pada 13 Desember 1965, ruang Gedung Induk menjadi tempat sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno untuk menetapkan penurunan mata uang rupiah. Pada 17 April 1993 dipakai Presiden Soeharto untuk melakukan perundingan pemerintah Filipina dengan gerilyawan muslim Moro,” kata Heru saat memandu rombongan di Gedung Induk Istana.

Di dalam Gedung Induk terdapat dua buah lampu kristal produksi 1900 dari negara Cekoslavia, dua set kursi standar asal Jepara yang bisa ditemui di Istana lainnya, karpet peninggalan Soekarno yang diproduksi 1950 dari negara Turki, dan foto SBY beserta keluarganya. Di setiap dinding Istana juga dilengkapi dengan lukisan karya pelukis terkenal seperti S. Abdullah, Affandi dan Soedjono DS.

Rumah bentol, tempat kerja presiden.
Rumah bentol, tempat kerja presiden.

Lukisan yang menarik karya Soedjono terpajang indah di bagian lain dari Gedung Induk dengan judul lukisan ‘Jalan Di Tepi Sawah’. Konon, lukisan ini dihadiahkan oleh pelukis kepada Soekarno di ulang tahunnya yang ke – 57. Oleh Soekarno, lukisan ini diberi nama ‘Jalanan Seribu Pandang’. “Lukisan ini unik, karena dari arah jalan akan berubah setiap pengunjung mengubah posisi saat melihat lukisan. Jika melihatnya di tengah maka jalan akan terlihat di tengah. Jika melihatnya di kiri maka jalan akan terlihat di kiri. Jika melihatnya di kanan maka jalan akan terlihat seperti di kanan,” ujar orang yang sudah bekerja selama 14 tahun ini.

Pesona Istana Cipanas tak hanya Gedung Induk dengan lukisannya. Istana yang memiliki 65 karyawan ini juga menyuguhkan pemandangan yang luar biasa karena berada di kaki Gunung Gede. Jika cuaca cerah maka gunung dengan ketinggian 2.958 itu akan tampak. “Gunungnya ketutup kabut. Padahal kalo cerah, gunungnya akan kelihatan. Ibu Ani juga pernah mengambil foto Gunung Gede,” ujar Heru lagi.

Selain itu, Istana Cipanas juga dikenal dengan pemandian air panasnya. Ada dua gedung pemandian yang dikhususkan untuk presiden dan wakil presiden serta para menteri. Tak jauh dari gedung pemandian maka akan dijumpai hutan lindung dengan ratusan pohon yang tampak tertata apik dan rimbun. “Pak Boediono sering melakukan olahraga mengitari hutan lindung,” kata pria yang mengaku sangat terkesan saat mendampingi Boediono berkeliling Istana ini.

Pemandian air panas Istana Kepresidenan Cipanas.
Pemandian air panas Istana Kepresidenan Cipanas.

Mengitari hutan lindung maka akan ditemui kandang kuda, kebun tanaman hias dan herbalia, serta Gedung Benthol yang kerap digunakan Soekarno untuk merenung dan SBY untuk bekerja. “Istana Cipanas juga punya lima paviliun. Yaitu paviliun Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa,” tutup Heru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *