P1090247

Salah satu yang membuat saya senang mendaki gunung adalah kebersamaan. Meskipun sudah pernah mendaki suatu gunung sebelumnya, saya tak pernah merasa bosan. Keindahannya juga membuat saya ingin datang berkali-kali.

Jum’at (7/8/2015), saya kembali mendaki Gunung Papandayan. Gunung api dengan ketinggian 2.665 MDPL (Meter diatas permukaan laut) ini terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bisa ditempuh sekitar 4 jam dari Jakarta menggunakan bus umum. Biasanya kami, para pendaki menunggu bus tujuan Garut di Terminal Kampung Rambutan.

P1090233

Meskipun Gunung Papandayan terbilang pendek diantara gunung-gunung lain di Jawa Barat, namun keindahan gunung ini jauh lebih mempesona dibandingkan lainnya. Gunung ini menyuguhkan panorama alam yang sangat indah dengan padang edelweis dan hutan mati-nya yang mistis. Juga beberapa kawah yang sampai saat ini masih aktif dan menyemburkan asapnya. Tak heran apabila gunung ini menjadi primadona bagi para pendaki.

P1090289

Trek Papandayan juga mudah dan pendek. Sangat bersahabat bagi pendaki pemula dan keluarga yang mengajak anak-anak. Untuk mendaki gunung ini ada dua jalur yang dapat digunakan yaitu Cisurupan dan Pengalengan. Jalur Cisurupan menjadi jalur pilihan karena treknya yang aman dan landai. Sehingga saya dan empat orang teman saya memilih jalur ini untuk memulai pendakian. Pun tiga tahun lalu ketika saya melakukan pendakian pertama saya di Gunung Papandayan menggunakan jalur ini.

P1090249

Kami memulai pendakian pukul 9.00 WIB, mengingat bulan Agustus puncak musim panas. Kami bertekad harus sudah tiba di camp ground, Pondok Saladah, pukul 12.00 WIB.

P1090252

Jalur pendakian dimulai dengan jalur bebatuan yang cukup landai. Meskipun begitu, baru beberapa langkah kaki ini berjalan, nafas kami sudah terengah-engah. Matahari saat itu cukup terik, memaksa kami untuk berhenti sejenak mengambil nafas dan meneguk air minum yang kami bawa dari basecamp pendakian. Begitu terus menerus yang kami lakukan. Berjalan, berhenti, lalu berjalan lagi.

P1090264

Sekitar 30 menit kemudian kami mendapati sebuah papan bertuliskan “Kawah Papandayan”. Sementara sekitar tiga meter dari papan itu menyembul asap putih kekuningan dari bebatuan. Itulah salah satu kawah yang ada di Papandayan.

P1090271

Kawah itu menyemburkan bau belerang yang cukup menyengat. Berbahaya berada di situ terlalu dekat dan lama tanpa penutup hidung. Kami memutuskan untuk terus berjalan hingga akhirnya kami menemukan beberapa warung yang menjual makanan dan minuman. Kami beristirahat di salah satu warung yang kami sebut sebagai “Warung Emak”, sambil menikmati bacang, gorengan dan segelas pop mie dengan iringan gelak tawa.

P1090269

Setelas puas beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Saladah. Saat itu kami menggunakan jalur yang umumnya di gunakan oleh pendaki. Jalur ini cukup terjal, sempit, berbatu dan menanjak. Tanpa kenal ampun selama satu kilometer pertama, jalanan terus menanjak dan berdebu.

P1090272

Semakin dekat dengan Pondok Saladah, jalurnya menurun lagi, kemudian datar, lalu naik lagi. Pohon-pohon Cantingi mulai tumbuh meninggi. Keringat mengalir deras, tetapi diseka dengan puas. Melelahkan, tetapi canda teman-teman sukses membuat lupa. Dua diantara dari mereka baru saya kenal, tapi rasanya sudah mengenal mereka bertahun-tahun lamanya. Itulah pendakian, tanpa sekat menyatukan kami menjadi satu keluarga.

IMG-20150801-WA0032

Tepat pukul 12.00 WIB kami sampai di Pondok Saladah. Saat itu, Pondok Saladah sudah berdiri banyak tenda. Warung-warung kecil yang tiga tahun lalu belum ada, kini berdiri menjajakan makanan seperti pop mie, gorengan, dan lain-lain. Menurut saya, tempat ini tak lagi seperti gunung tapi pasar. Sedih, Papandayan yang seharusnya dijaga keasriannya, namun dijadikan sebagai tempat komersil.

IMG-20150811-WA0044

Melihat itu, kami memutuskan mendirikan tenda di dalam hutan yang mengelilingi Pondok Saladah. Selain mencari kesunyian, kami juga menghindari terjangan angin dan dingin di malam hari.

P1090294

Waktu kami habiskan untuk mengobrol sambil memasak. Malam hari, kami memilih untuk bermain kartu UNO sampai pukul 1.00 WIB. Mengingat pagi hari kami hendak ke Tegal Alun dan hutan mati, kami memutuskan untuk tidur.

IMG-20150810-WA0014

Keesokan paginya kami melihat sunrise bersama. Dilanjutkan dengan perjalanan menuju Tegal Alun dan hutan mati. Keindahan pagi itu, tak kami sia-siakan begitu saja. Kami berfoto bersama dengan beragam pose.

P1090315

Sesampainya Tegal Alun kami meluapkan kegembiraan. Saya berlari, berjingkrak dan memeluk bunga edelweis. Yang lainnya meluapkan kegembiraan dengan berselfie ria. Betapa cantik pemandangannya! Hamparan edelweis yang bermekaran dan langit biru membentang dihadapan kami.

P1090355

Pukul 9.00 WIB kami turun menuju tenda. Lalu memasak, makan dan packing. Pukul 12.00 kami turun menuju basecamp. Belum puas sebenarnya. Tapi tugas esok hari telah menanti kami. Kami pun pulang dengan hati riang. Membawa segudang cerita yang kami abadikan lewat bingkai kamera dan ingin kami ceritakan kepada teman-teman melalui sosial media.

IMG-20150810-WA0036

Budget:

Bus Kampung Rambutan – Terminal Garut             : Rp. 52.000

Angkot Terminal Garut – perempatan Cisurupan     : Rp. 20.000

Pick up perempatan Cisurupan – basecamp             : Rp. 20.000

Ojek perempatan Cisurupan – basecamp                 : Rp. 20.000

Angkot Terminal Garut – perempatan Cisurupan      : Rp. 20.000

Bus Kampung Rambutan – Terminal Garut              : Rp. 52.000

Total                                                                      : Rp. 184.000

Happy hiking, happy find new family!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *