Dont Be Scared

“Kok Sendiri?”

“Kamu sendirian?”

“Ya Tuhan!”

“Apa enaknya jalan sendirian?”

“Kamu jomblo banget sih, kemana-mana sendiri”

Setidaknya itulah pernyataan yang sering orang-orang lontarkan padaku akhir-akhir ini. Alasannya mungkin sederhana, mereka tidak terbiasa traveling sendirian.

Karena rasa takut dari banyak hal, takut kesepian, takut ada orang jahat, takut kesasar, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Atau bisa jadi karena tradisi orangtua di Indonesia yang enggan melepas anaknya sampai si anak menikah. Berpergian menjadi hal yang tak lumrah dilakukan apalagi seorang perempuan.

Prof. Rhenald Kasali di dalam bukunya yang berjudul “30 Paspor Di Kelas Sang Profesor” mengatakan orangtua di Indonesia telah melakukan kesalahan besar dengan “menjahit” kedua sayap anak-anaknya sehingga mereka tidak bisa terbang menjadi rajawali. Hal itu melatih anak-anak mereka menjadi “burung dara” yang tidak terbiasa terbang menjelajah semesta alam ini.

Ini membuat mayoritas orang-orang di Indonesia terperangkap dalam zona nyamannya, mengarungi jalan yang sama, berlibur ke tempat yang sama. Dan mereka selalu mencari orang yang bisa menemani perjalanannya dan memikirkan segala sesuatu yang akan mereka hadapi.

Semua masalah itu ujung-ujungnya membuat mereka enggak kemana-mana karena takut sendiri.

Masih kata Prof. Rhenald, bepergian sendirian di tempat yang asing bisa membuat orang menemukan sesuatu hal baru. Contohnya Christhoper Columbus yang berani menjelajah dunia baru dan kesasar di sebuah benua yang kemudian diberi nama benua Amerika.

Tapi, bukan itu yang membuatku berani traveling sendiri. Lalu apa? Jawabannya adalah karena terpaksa.

Awal tahun 2015, teman sekantorku menikah di Denpasar, Bali. Temanku mempersilahkanku dan teman-teman yang lain untuk menginap di rumahnya hingga beberapa malam. Di rumahnya itu aku menginap bersama empat orang teman. Ada tiga kamar yang disediakan. Masing-masing mereka tidur berdua sementara aku sendiri di kamar bagian depan.

Pernikahan dilangsungkan pada sabtu. Dilanjutkan dengan pesta pernikahan pada sabtu malam di Jimbaran. Acara pesta pernikahan saat itu begitu meriah, tapi jujur aku merasa asing. Mayoritas dari mereka adalah alumni pengajar muda. Beda halnya denganku sehingga saat acara belum usai aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu bersama tetangga temanku. Sebelum pulang aku sudah izin dengan empat teman lainnya. Aku tiba di rumah teman pukul 23.oo waktu Bali dan langsung tertidur pulas. Apalagi malam itu hujan begitu deras.

Esok pagi saat aku bangun tidur, aku mendapati beberapa koper teman yang sudah tidak ada. Pun dengan keempat temanku. Tak ada yang mengetuk pintuku, menelponku, menghubungiku via whatsapp atau sms, dan menitipkan pesan kalau mereka semua pergi.

Saat itu aku sedih, kecewa, marah. Spontan aku memutuskan untuk pergi sendiri. Berbekal informasi di internet aku menyewa motor dan mencari penginapan di Popies Lane, Kuta.

Popies Lane adalah nama dari sebuah jalan berupa gang sempit yang tak jauh dari Pantai Kuta. Tempat ini menjadi tujuan utama para backpacker dari berbagai belahan dunia karena banyak penginapan murah dan bersih. Aku sendiri saat itu mendapatkan penginapan dengan harga per malam Rp. 80 ribu.

Di sepanjang lorong Popies Lane terdapat banyak toko dan orang-orang yang berdagang souvenir. Orang-orang berkulit putih terlihat lalu lalang membawa tas-tas besar mereka. Tak jarang aku melihat mereka berjalan seorang diri. Mereka terlihat masih muda-muda. Aku rasa mereka seumuran denganku atau di bawahku. Dan momen dimana aku berpas-pasan dengan para solo traveler inilah membuatku sadar bahwa memang sudah sepatutnya aku tak perlu merasa sedih. “Mereka pergi di negeri orang saja berani, lalu aku yang di negeriku sendiri takut,” gumanku.

Aku menjelajah Bali seorang diri selama dua hari.  Meskipun sempat terjebak hujan di Tanah Lot dan ketinggalan pesawat saat hendak pulang ke Jakarta, aku tak pernah menyesalinya. Sekalipun karena hal pahit, aku justru sangat bersyukur karena sejak saat itu aku berani menjelajah tempat-tempat yang ingin ku kunjungi dan asing sekalipun sendirian. Solo traveling? Siapa takut!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *