Di dunia ini banyak orang yang berjuang untuk hidup lebih lama. Rela mengeluarkan uang jutaan rupiah, utang sana-sini, demi sehela nafas. Kenapa mereka mengakhiri hidupnya begitu saja?

“Tadi gue telat kerja, karena ada yang bunuh diri,” ujar Karin melalui line call. Karin adalah sahabat saya. Maret lalu dia berangkat ke Jepang untuk magang. Hampir setiap hari kami berkomunikasi. Begitulah gawai, dia bisa membuat yang dekat jadi jauh, yang jauh menjadi dekat. Bagi saya dan Karin, dia membuat kami terasa dekat sekali, meskipun kami terpisah ribuan mill.

Jepang dikenal sebagai negara maju dengan tingkat bunuh diri warga tertinggi di dunia. Dikutip dari Jawa Post, pada 2014 dirilis data kalau dalam sehari ada 70 orang Jepang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dari angka itu, sebagian besar adalah lelaki.

Aksi bunuh diri di Jepang merupakan kombinasi dari banyak faktor. Yang menjadi utama adalah mengenai isu kesehatan dan persoalan finansial. Meskipun Jepang menggaji pekerja-pekerjanya cukup tinggi, namun biaya hidup di negeri sakura ini sangat mahal. Karin harus membayar uang muka Rp100 juta  ketika pertama kali menyewa sebuah rumah. Kini, setiap bulannya dia harus mencicilnya jutaan rupiah. “Penghasilan gue di sini dua digit, tapi percuma juga di sini apa-apa mahal,” keluh Karin.

Sudah lama Jepang dikenal sebagai negara yang paling disiplin dan memiliki iklim kompetisi yang sangat ketat antara masyarakatnya. Dari gaya hidup, ekonomi dan prestasi akademik. Maka tak heran, bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa tapi juga pelajar. “Di sini setiap hari selalu ada yang bunuh diri. Anak sekolah juga banyak yang bunuh diri. Kebanyakan sengaja ngejatuhin diri dari gedung,” celoteh Karin ketika jarum jam menunjukkan pukul 22.30, artinya di Jepang saat itu pukul 1.30 dini hari. Entah kenapa tiba-tiba saya membayangkan di Jepang banyak roh bergentanyangan. “Berarti di sana banyak hantu donk rin, kan orang bunuh diri enggak diterima di bumi?” “Eh elooo jangan nakut-nakutin gue donk.”

Sumber lain menyebutkan, Jepang memiliki tradisi selama berabad-abad untuk bunuh diri demi kebanggaan. Para samurai melakukannya, pun demikian para pilot saat berakhirnya Perang Dunia ke-2 pada 1945. Dan itu sepertinya menjadi alasan kultural mengapa Jepang lebih “mudah” memutuskan untuk bunuh diri.

Wataru Nishida, psikolog dari Universitas Temple, Tokyo, Jepang melalui wawancaranya dengan Jawa Pos mengatakan tidak ada sejarah agama yang kuat di Jepang juga menjadi pemicunya. ”Jepang tidak punya sejarah agama yang kuat. Jadi, bunuh diri di sini bukanlah dosa. Bahkan, beberapa melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Nishida.

Saya merasa semakin hari dunia semakin keras. Di Indonesia sendiri, masyarakat dihadapi dengan inflasi. Dari tahun ke tahun harga barang mengalami kenaikan. Pun dengan biaya sekolah, kuliah, sandang, pangan dan papan. Wajar jika beberapa belakangan ini, fenomena bunuh diri menjadi marak di Indonesia. Sebelum tersiar kabar meninggalnya vokalis Linkin Park karena bunuh diri, mantan pacar youtuber, Awkarin juga meninggal karena bunuh diri. Setelah itu dua kakak beradik di Apartemen Gateway, Bandung sengaja menjatuhkan dirinya dari lantai 5. Keduanya tewas di tempat.

Fenomena bunuh diri menjadi isu menarik buat saya saat ini. Ketika diundang untuk mengikuti diskusi “Fenomena Bunuh Diri” yang diadakan  oleh sebuah komunitas, saya dengan penuh antusias menyatakan join. Narasumbernya, psikolog senior, Adriano Rusfi.

Menurut Adriano, pada dasarnya bunuh diri adalah ekspresi dari keputusasaan hidup, di mana manusia tidak lagi melihat ada solusi-solusi kehidupan dalam menyelesaikan permasalahan dirinya. Keputusasaan hidup itu seringkali lahir karena terjadinya kehampaan spiritual. Kehampaan spiritual itu pada dasarnya disebabkan karena seseorang telah kehilangan makna dan nilai dari sebuah kehidupan.

Manusia yang menganggap kehidupan ini hanya ada di dunia, maka ketika target-target duniawinya tercapai dia pun akan mengalami kehampaan spiritual. Lalu ia berpikir, “Untuk apa aku terus menjalani hidup ini jika target-target hidupku telah tercapai?” Makanya, jangan mengherankan jika beberapa pemenang hadiah Nobel, artis-artis tenar yang kita anggap telah mendapatkan segala kebahagiaan yang dia cari dalam hidup ini, justru mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Kehampaan spiritual juga terjadi ketika manusia mengingkari fitrahnya, bawa mereka butuh agama, mereka butuh Tuhan, mereka membutuhkan panduan yang datang dari atas dirinya. Ketika hal-hal tersebut tidak ada, maka fitrahnya pun mengalami dahaga. Kadang-kadang mereka tampak bahagia tapi sebenarnya hampa.

Pada masyarakat Jepang, lanjut Andriano, dengan tingkat bunuh diri terbesar di dunia hingga saat ini, yaitu mencapai 18,3 per 100.000 orang, bunuh diri seringkali disebabkan karena tekanan-tekanan hidup yang luar biasa, mimpi-mimpi yang berlebihan, ambisi-ambisi yang tak tertanggungkan. Sementara di sisi lain mereka kehilangan kebahagiaan hidup dan mereka kehilangan spiritualitas hidup.

Remaja dan anak-anak Jepang termasuk golongan yang sangat rentan terhadap bunuh diri. Di antara penyebabnya adalah tekanan kehidupan yang luar biasa dan tuntutan kehidupan yang berlebihan. Mereka memburu hidup, tapi anehnya tak menikmati hidup. Mereka memiliki banyak hal, tapi tak menikmati hal tersebut.

Pertanyaannya, “Mungkinkah orang orang beragama mengalami kehampaan hidup lalu bunuh diri?” Maka jawabannya adalah mungkin. Jika aktivitas beragama yang dilakukan itu hanyalah sesuatu yang bersifat ritual, rutinitas, tanpa nilai, tanpa makna, tak didasari atas iman, hanya pembiasaan pembiasaan semata, dilakukan karena ditakut-takuti dan dengan tekanan-tekanan yang dahsyat.

Adriano kembali menjelaskan faktor bunuh diri. Orang menyerah menjalani hidup seringkali tidak disebabkan karena beratnya kehidupan itu sendiri, tapi lebih disebabkan karena mentalitas nya buruk dalam menghadapi problematika hidup. “Karena kita sama-sama tahu seberat apapun masalah hidup, Allah tidak pernah membebani hambanya melebihi tingkat kesanggupannya. Jadi sekali lagi, yang menjadi masalah utama bukanlah masalah hidup itu sendiri, tapi sikap seseorang dalam memahami hidup,” paparnya.

Saat ini telah lahir generasi-generasi yang takut hidup, karena mereka sangat berorientasi pada kenyamanan, pada kepastian, pada kejelasan. Sehingga ketika dia berhadapan dengan sesuatu yang tidak pasti, seringkali tidak siap menghadapi situasi ini dan menyebabkan ia memutuskan mengakhiri hidupnya.

Mahasiswa termasuk periode yang sangat rentan untuk kemungkinan bunuh diri. Pertama, pada kenyataannya mereka masih dalam tahap remaja, masih dalam tahap anak baru gede, sehingga walaupun secara fisik mereka sangat dewasa, namun secara mental sebenarnya mereka masih agak kekanak-kanakan.

Dalam situasi seperti itu, mereka telah dihadapkan dengan realitas-realitas kehidupan orang dewasa, seperti mengambil keputusan, bertanggung jawab atas keputusan, mengelola waktu, mengelola perasaan dan sebagainya. Belum lagi tekanan-tekanan eksternal seperti dia sebenarnya tidak ingin memasuki jurusan anu, sementara orang tuanya memaksanya untuk memasuki jurusan tersebut.

Itu menimbulkan tekanan tersendiri. Belum lagi persoalan-persoalan lain seperti persaingan dengan sesama mahasiswa, percintaan, putus cinta dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kenapa mahasiswa termasuk periode yang rentan terhadap kemungkinan bunuh diri. Karena mentalitasnya tidak siap menghadapi kehidupan yang sepenuhnya dewasa.

Cara terbaik untuk mengatasi keinginan bunuh diri pada mereka-mereka yang menghadapi masalah yang sedemikian berat, adalah sesegera mungkin mencari orang lain, sahabat untuk berbagi. Karena pada dasarnya orang semacam itu perlu memiliki ventilasi dan kanalisasi terhadap beban-beban yang ada di dalam dirinya.

Satu hal juga yang sangat penting pada dasarnya untuk mengatasi kecenderungan bunuh diri, yaitu segera melepaskan segala beban kepada Allah. Cuma masalahnya untuk yang terakhir ini memang jarang dipilih oleh mereka mereka yang akan bunuh diri. Karena bunuh diri sendiri adalah sebuah gejala di mana manusia tidak lagi merasakan kehadiran Tuhan.

Bagi mereka yang gagal bunuh diri, ini sebenarnya adalah kesempatan kedua dalam hidup. Maka momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyadarkan bahwa Tuhan telah begitu baik, memberikan peluang kepadanya, memberikan kepadanya makna hidup, mengajarkan kepadanya nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Segera diskusikan dengannya kenapa dia bunuh diri, masalah apa yang dihadapi dan segera memberikan kekuatan mental dan moral kepadanya untuk menjalani hidup ini.

“Orang semacam ini perlu diberikan perspektif betapa indahnya kehidupan ini, betapa beruntungnya dia,” tutup Adriano.

Kita diberikan kesempatan hidup di dunia hanya sekali. Senang dan susahnya di dunia juga sekali. Jadi bersabarlah dalam menjalani kehidupan ini. Jalani dengan sebaik-baiknya. Karena di luar sana banyak orang yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Coba saja tengok mereka yang ada di rumah sakit. Bagaimana mereka berjuang hidup dari bantuan selang di hidungnya. Coba saja lihat bagaimana perjuangan orang-orang di negara konflik di tengah gempuran senjata.

Jadi, jangan bunuh diri, bagaimanapun keadaan kita saat ini. Karena hidup terlalu berharga untuk diakhiri begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *