Dalam peperangan melawan Covid-19, satu-satunya benteng pertahanan manusia adalah imunitas.

Setidaknya itu yang dapat saya simpulkan akhir-akhir ini.  Bulan lalu, saya mendapat undangan untuk membantu Dinas Kesehatan Jakarta melakukan contact tracing pasien positif Covid-19. Contact tracing adalah proses yang dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang memiliki kontak erat dengan orang yang sudah positif tertular Covid-19, beserta rincian kegiatan dan tempat apa saja yang sudah mereka kunjungi. Aktivitas ini penting dilakukan karena proses penularan Covid-19 yang sangat cepat. Biasanya dari 1 orang yang positif tertular Covid-19, ada 30-36 orang di sekitarnya yang berisiko tinggi untuk tertular. Secara teori perlu sekitar 3.300 orang untuk melakukan proses tersebut dan setiap kecamatan memerlukan waktu sekitar 750 jam untuk menyelesaikan contact tracing. Maka Dinkes Jakarta tak bisa melakukannya sendiri. Saya pun bersama puluhan alumni Indonesia Mengajar terpanggil turun tangan dengan sukarela.

Ada tiga kelompok kerja (pokja) yang terbentuk. Pokja volunteers engagement, interviewer, dan manajemen data. Saya tertarik dengan manajemen data. Selain karena berlatar belakang S1 Matematika, saya juga senang menulis. Pikir saya, dari data yang diperoleh akan diolah juga dalam bentuk tulisan, ehehehe, ternyata saya salah.

Gerak Berangkat – nama grup relawan ini – terbilang cepat. Beberapa hari setelah memilih pokja-pokja yang tersedia, kami melakukan rapat virtual dengan perwakilan Dinkes, puskesmas-puskesmas, dan TGUPP (Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan) Pemrov DKI. Besoknya, saya sudah membaca hasil pelacakannya. Ternyata mereka yang terinfeksi sudah mengikuti protokol kesehatan, tidak tahu pasti tertular di mana, bahkan tak semua anggota keluarganya positif. Padahal satu rumah.

Di hari yang bersamaan, rekan kerja saya mengirimkan pesan. “Keponakanku di Kalimantan positif Covid. Kasihan padahal dia sendirian.” Saya meresponnya dengan begini, “Layaknya flu Bu, kita semua punya peluang terpapar. Siapa yang kuat (imun), dia yang bertahan.”

Dan benar saja. Pada Rabu, 30 September 2020, Danone Indonesia menggelar Bicara Gizi. Temanya, “Biasakan Anak Terapkan Gizi Seimbang selama di Rumah Saja.” Corporate Communication Director Danone Indonesia Arief Mujahidin mengungkapkan meskipun vaksin sudah ada, kita tidak boleh percaya diri. Pandemi ini masih panjang. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengingatkan masyarakat dunia untuk meningkatkan imunitas.

Mengutip Alodokter.com, imunitas – sering juga disebut kekebalan tubuh – merupakan pertahanan tubuh menghadapi organisme dan kuman-kuman berbahaya. 

Spesialis Gizi Klinis dr. Juwalita Surapsari, M. Gizi, SpGK mengatakan salah satu aspek yang bisa menunjang imun adalah bila nutrisi kita tercukupi. Sehingga itu menjadi senjata satu-satunya untuk menangkal infeksi dari luar.

Corporate Communication Director Danone Indonesia Arief Mujahidin, Spesialis Gizi Klinis dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Psikolog Anak dari Tiga Generasi Putu Andini, M.Psi, dan ibu dengan gaya hidup sehat Soraya Larasati berfoto bersama. Sumber foto: Danone Indonesia

Bicara kebutuhan nutrisi, karena sekarang di rumah saja, apa yang diasup keluarga sumbernya dari ibu. Ibu memiliki peranan yang kuat di kondisi saat ini. Karena ibu perlu menyiapkan nutrisi untuk anak-anak dan orang lain di rumah. Kebutuhan nutrisi anak-anak dan orang dewasa pun berbeda. Bila pada orang dewasa, nutrisi dibutuhkan untuk metabolismenya dan aktivitas fisik, kalau pada anak-anak tidak hanya itu, tapi juga tumbuh kembang. Maka, anak-anak perlu mendapat perhatian lebih.

Pada situasi saat ini, para ibu yang di rumah saja harus berupaya ekstra dengan kondisi sebelumnya. Mereka harus paham bahwa makanan yang sehat adalah makanan yang disiapkan sendiri di rumah. Selain lebih bersih, makanan yang disiapkan sendiri lebih bernutrisi dibandingkan dengan makanan yang kita beli dari luar, yang tinggi kalori tapi belum tentu tinggi nutrisinya. Di awal acara, Arief sempat bertanya seperti ini, “Are you eating nutrition or food?” Pertanyaan yang menohok sekaligus menyadarkan kita betapa pentingnya konsumsi makanan yang kaya nutrisi. Sebab nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita.  Bukan sekadar makanan yang menjadi pemuas lidah dan membuat perut kita kenyang.

Juwalita menyarankan untuk mengikuti pedoman gizi seimbang. Prinsipnya ada empat yaitu keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi. Pedoman gizi seimbang bisa dijalankan untuk kita makan sehari-hari.

“Cara menangkal infeksi adalah apabila kita mematuhi gizi seimbang,” ungkap Juwalita, “maksud dari gizi seimbang adalah makanan mengandung zat gizi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh.”

Gizi seimbang diterjemahkan dalam tumpeng gizi seimbang. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuat panduan tersebut untuk menuntun orang tua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Tumpeng gizi seimbang tak hanya berisi panduan makan sehat, tetapi panduan gaya hidup sehat secara keseluruhan, termasuk aktivitas fisik dan kebersihan diri.

Tumpeng gizi seimbang. Sumber foto: linisehat.com

Lapisan tumpeng bawah menganjurkan untuk konsumsi makanan pokok yang beraneka ragam. Bisa beras, tepung, sagu, jagung, kentang dan umbi-umbian. Lapisan selanjutnya mencukupi kebutuhan vitamin dengan konsumsi sayur-sayuran dan aneka buah-buahan. Lapisan ketiga yakni memenuhi kebutuhan protein nabati maupun hewani. Di bagian paling atas, batasi konsumsi gula, garam dan minyak. Di luar lapisan ada perilaku hidup bersih, aktivitas fisik seperti berolahraga, memantau berat badan, dan minum air putih 8 gelas per hari.

Untuk mempermudah implementasi gizi seimbang sehari-hari, Kemenkes mengeluarkan satu pedoman lagi, “Isi Piringku”. Untuk sajian sekali makan, dalam piring makanan berisi 2/3 makanan pokok, 2/3 sayuran, 1/3 lauk pauk, dan 1/3 buah-buahan.

Isi piringku. Sumber foto: kemkes.go.id

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa 95% hormon serotonin diproduksi di usus. Hal ini menandakan bahwa apa yang kita makan dan kesehatan saluran cerna dapat memengaruhi kesehatan psikis. Sehingga, selain dukungan gizi seimbang, kondisi psikis ibu, anak dan anggota keluarga lainnya harus didukung.

Sayangnya dengan semua aktivitas yang dilakukan di rumah membuat anak bosan dengan menu makanan  yang disajikan. Kenyataan itu menjadi tantangan bagi para ibu. Sehingga variasi jenis nutrisi yang mengikuti pola makan bergizi seimbang perlu diterapkan agar dapat memengaruhi status gizi anak secara positif.

Tantangan Ibu Selama Pandemi dan Solusinya

Tantangan lain yang tak kalah beratnya di masa pandemi ini adalah stres berkepanjangan. Penyebabnya: kebosanan; pilihan yang terbatas; tidak bertemu teman/saudara; kegiatan yang menoton; masih merasa beradaptasi pada perubahan rutinitas sebelum dan setelah pandemi.

“Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik berdampak buruk pada kesehatan mental. Anak-anak sebagai individu yang kemampuan mengelola perasaanya masih berkembang, membutuhkan bantuan dalam mengelola stres,” papar Putu Andini, M.Psi, Psikolog Anak dari Tiga Generasi.

Lantas, apa sih solusi dari kedua tantangan di atas?

1. Atur Pola Makan

Pola makan sejak dini memengaruhi kebiasan anak ketika dewasa. Atur jadwal makan anak, misalnya makan pagi jam 7.00, makan siang jam 12.00, dan makan malam jam 19.00. Beri selinganan makanan yang nutrisinya baik seperti buah-buahan, kacang-kacangan, agar-agar, dan susu, di sela-sela waktu makan.

2. Kreasikan Sajian Makanan

Manfaat protein nabati sangat baik bagi perkembangan anak, bisa dikreasikan menjadi sajian makanan yang unik. Misalnya nugget tempe, rolade tahu yang dicampur dengan daging, bubur kacang hijau atau kacang hijau yang dibuat es mambo, sup kacang merah dan susu pertumbuhan soya. Dengan begitu anak akan senang namun nutrisinya tetap terpenuhi. Para Ibu bisa menerapkan pada bahan makanan lain.

3. Sesuaikan porsi makan anak

Momen makan sebenarnya menjadi momen untuk anak belajar. Aktivitas makan melatih kemampuan motorik anak, kemampuan tekstur dan rasa. Ibu perlu mengetahui sinyal lapar dan kenyang anak juga kapan anak harus berhenti makan. Dari pengalaman tersebut, Ibu akan tahu seberapa besar porsi makan pada anak. Sajikan makanan sesuai porsi mereka.

4. Kelola stres dengan hal positif

Seringkali anak tidak menyadari jika dirinya sedang stres. “Aku tuh maunya marah-marah terus, tapi enggak tahu kenapa.” Sehingga anak perlu diberi pemahaman tentang stres dan cara mengelolanya dengan hal-hal positif.

Ibu bisa mencoba keterampilan dan pengalaman baru dengan interaksi yang menyenangkan bersama anggota keluarga. Melibatkan anak dalam menyiapkan menu gizi seimbang sesuai usia dan kemampuan anak bisa menjadi alternatif kegiatan menyenangkan dan edukatif.

Putu mencontohkan untuk anak usia yang lebih kecil, bisa diajarkan mencuci buah dan sayur, memilah jenis makanan, menghitung jumlah makanan atau alat makan serta mengeksplorasi nama, warna dan aroma dari berbagai jenis makanan. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa dilibatkan untuk memotong, mencampur adonan, mengenalkan dan mencampur bahan, menentukan porsi makan dan menata peratan makan di meja.

5. Tingkatkan interaksi saat makan

Terkadang meskipun semua orang ada di rumah belum tentu ada waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Makan bersama keluarga dengan interaksi yang menyenangkan dan minim distraksi sangat disarankan untuk meningkatkan bonding antar anggota keluarga. 

6. Coba cara baru saat interaksi dengan anak

Kalau biasanya kita menggunakan kalimat seperti saat makan “makanannya enak atau enggak enak?, makananya bagus atau enggak bagus?, cobain deh makanan ini karena bagus buat kamu, makannya jangan banyak-banyak atau jangan sedikit!”. Ganti kalimatnya dengan seperti ini “coba lihat warna/bentuk makanannya, coba kamu cium deh aromanya bagaimana, coba pegang tekstur makanannya, waktu dikunyah rasa/bunyinya seperti apa ya?”

Narasumber dan peserta berfoto bersama. Sumber foto: pribadi

Dengan memahami pemenuhan nutrisi dengan gizi seimbang, kondisi psikologi keluarga serta solusinya, semoga akan meningkatkan imunitas. Sehingga kita bisa menghadapi pandemi Covid-19 dengan tenang dan menjalani kebiasaan baru meski pandemi sudah usai.

Salam sehat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *