Banyak remaja yang terobsesi memiliki tubuh langsing. Mereka kerap melakukan berbagai cara untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan. Salah satunya adalah mencoba diet ektsrem. Bukannya langsing, cara tersebut justru memicu gangguan kesehatan, seperti anemia. Dampaknya angka stunting di Indonesia jadi tinggi.

Beberapa tahun lalu seorang teman mendatangi saya. Ia bercerita sedang diet. Selama satu minggu tak makan nasi dan lauk. Ia hanya makan sayur dan buah. Menurutnya cara itu berhasil, sebab ia pernah mencobanya. Dalam waktu 7 hari, berat badannya turun 7 kilo. Efeknya tubuh dia lemas. 

Ia menganjurkan saya untuk mencobanya. Kebetulan sekali saya sedang bermasalah dengan berat badan. Jika mengacu pada indeks massa tubuh (BMI), seharusnya berat badan saya maksimal 50 kilogram saja. Tapi saat itu berat badan saya mencapai 58 kilogram.

Meski saya ingin memiliki berat badan ideal, tapi saya enggan mengikuti sarannya.  Bagi saya turun 7 kilo dalam seminggu bukan hal yang baik.

Selama ini persepsi masyarakat tentang perempuan memang cenderung melihat fisik dan penampilan terlebih dahulu. Perempuan ideal identik dengan memiliki paras cantik, tinggi semampai, langsing, berkulit putih, hingga berambut lurus dan panjang.  Banyak media cetak dan elektronik yang memajang gambar “perempuan ideal” tadi. Akibatnya banyak perempuan yang memaksa dirinya untuk mengikuti standar kencantikan tersebut.

Salah satu iklan Indonesia yang menunjukan body image remaja saat ini adalah langsing. Ilustrasi: Iklanesia HD

Kondisi ini semakin diperparah dengan kemunculan Instagram di tahun 2010. Instagram memungkinkan penggunanya mengunggah foto dan memperlihatkan paras cantik serta tubuh ideal perempuan. Semakin cantik dan langsing tubuhnya, semakin banyak like dan komentarnya.

Sementara itu pengguna Instagram mayoritas adalah kaum remaja. Sehingga banyak remaja putri yang tidak percaya diri dengan wajah dan tubuhnya. Mereka pun kerap menjadi sasaran banyak pihak untuk memperoleh keuntungan seperti pelaku industri kosmetik, makanan, fashion dan para content creator.  Jika kita coba telusuri Google, kita akan banyak menemukan artikel tentang bagaimana menurunkan berat badan dengan instan. Dari diet ekstrem hingga obat-obatan langsing berhamburan di mesin pencari internet itu.

Tak sedikit remaja putri yang menjajal cara tersebut, seperti teman saya tadi. Ia melakukan diet ekstrem setelah membaca sebuah artikel tentang seorang public figure yang sukses menurunkan berat badan dalam waktu seminggu. Contoh lainnya dialami oleh Sharla Martiza, selebgram remaja yang kini masih duduk di bangku 3 SMA. Menurutnya body image remaja sangat penting karena memengaruhi penampilan. Saat masih berbadan gemuk, Sharla mencari-cari informasi menurunkan berat badan di Google.

Fenomena tersebut tentunya berbahaya sekali jika berlangsung terus menerus. Menurut Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat drg. Kartini Rustandi, M. Kes, diet yang salah dapat mengancam masa depan bangsa, apalagi pada remaja putri. Mereka adalah calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Status gizi tidak baik pada remaja putri akan berdampak pada tingginya angka stunting di Indonesia.

Stunting merupakan kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi anak seusianya. Penyebabnya adalah kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki kecerdasan di bawah normal dan produktivitas rendah. Bahaya stunting di antaranya pendapatan saat dewasa yang lebih sedikit, performa di sekolah yang lebih buruk, dan ancaman terhadap penyakit kronis.

“Sayangnya saat ini, 1 dari 4 remaja mengalami stunting,” ungkap Kartini pada launching program GESID (Generasi Sehat Indonesia) pada Senin, 14 Desember 2020.

Penyebabnya  stunting pada remaja adalah tidak sarapan, kebiasaan makan kurang dari tiga kali, konsumsi sayur dan buah yang sedikit, banyak konsumsi makanan manis, asin serta instan. Pernikahan dini dan kehamilan pada remaja  juga masih cukup tinggi.

Kartini mengatakan edukasi gizi dan kesehatan remaja akan memberikan efek positif yang dapat mencegah masalah-masalah gizi di masa depan

Senada dengan Kartini, Ketua Departemen Gizi Masyarakat FEMA Insitut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir Sri Anna Marliyati, Msi mengungkapkan ada hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi pada remaja putri. Ada juga hubungan signifikan antara pengetahuan gizi seimbang dengan anemia.

“Sehingga pendidikan gizi menjadi kebutuhan saat ini yang akan membantu remaja untuk mengadopsi kebiasaan makan sehat,” katanya.

Sri menjelaskan anemia atau yang lebih dikenal kurang darah merupakan suatu penyakit dimana kadar hemoglobin (HB) dalam darah kurang normal. Hemoglobin menjadi salah satu komponen dalam sel darah merah/eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. 

Anemia menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan pertumbuhan, konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, kebugaran, ketangkasan dan kemampuan fisik.

“Anemia yang diderita remaja putri kalau tidak segera ditangani bisa terbawa hingga ia berkeluarga dan hamil.  Hal ini bisa menimbulkan pendarahan sebelum melahirkan dan saat melahirkan yang membahayakan kesehatan ibu dan janin. Janin tidak tumbuh dengan normal dan bisa berdampak pada kematian,” papar Sri.

GESID, Aksi Gesit Danone Berantas Stunting

Danone Indonesia memiliki komitmen untuk membawa kesehatan ke sebanyak mungkin masyarakat melalui nutrisi dan hidrasi sehat. Sesuai dengan visinya One Planet One Health, Danone Indonesia mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi masalah stunting. Sudah banyak program yang telah dilakukan. Kali ini Danone Indonesia meluncurkan program Generasi Sehat Indonesia (GESID) untuk remaja SMP dan SMA.

“Kenapa remaja? Karena remaja memiliki peranan penting untuk pencegahan stunting,” jelas Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Danone Indonesia.

Peluncuran buku panduan GESID bagi pelajar SMP dan SMA. Ilustrasi: dok. pribadi

Menurut Aryanto, the cycle of stunting dimulai dari 1000 hari pertama. Seorang ibu yang mengalami malnutrisi akan melahirkan anak yang berpotensi stunting. Jika tidak diintervensi akan tumbuh remaja yang stunting.

Remaja yang tidak memiliki pengetahuan gizi dan kesehatan yang baik akan berpotensi melahirkan anak stunting juga. “Sehingga remaja bisa memutus mata rantai stunting ini,” kata Karyanto.

Ia menjelaskan GESID merupakan buku panduan yang berisi tiga pilar utama bagi remaja yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab. Ketiga pilar tersebut tidak hanya mengajarkan tentang komposisi makan yang dapat memenuhi kecukupan bagi remaja, tetapi juga pendidikan karakter. Bagaimana gizi akan memengaruhi mereka di masa mendatang dan mengajak remaja untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

“Kontennya sangat edukatif, bahasanya remaja banget, dan mudah dipahami,” tutup Karyanto.

Mau Langsing Tak Perlu Diet Ekstrem

Ingin memiliki tubuh langsing sebenarnya tidak sulit. Tak perlu diet ekstrem yang bisa membahayakan diri sendiri. Saya jadi ingat punya seorang teman yang berhasil menurunkan berat badan dengan cara yang simpel. Jalan kaki setiap pagi, sekitar 45 menit keliling komplek. Pulang-pulang bawa sayur dan buah. Ia konsumsi sayur dan buah itu dalam jumlah banyak dibandingkan karbohidrat. Lalu Ia juga mengurangi konsumsi manis dan asin. Persis dengan panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yaitu Isi Piringku.

Panduan makan gizi seimbang dari Kemenkes “Isi Piringku”. Ilsutrasi: Kemenkes.go.id

Secara umum, “Isi Piringku” menggambarkan porsi makanan yang dikonsumsi dalam satu piring. Terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Panduan ini juga menekankan untuk membatasi gula, garam dan lemak dalam konsumsi sehari-hari. Minum air putih yang cukup, aktivitas fisik  minimal 30  menit per hari dan menghitung berat badan dengan BMI sangat dianjurkan.

Saya pun menerapkan cara itu dalam kehidupan sehari-hari. Agustus kemarin berat badan saya jadi normal.

Sekarang, panduan gizi seimbang itu ada dalam buku panduan GESID. Saya berharap tak hanya remaja yang bisa mengaksesnya tapi juga semua perempuan dewasa di Indonesia. Dengan begitu perempuan-perempuan di Indonesia bisa memiliki berat badan ideal dan sehat, sehingga Indonesia bisa bebas dari masalah stunting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *