Setelah dokter rehab medik di RS Mayapada Kuningan mengatakan bahwa kondisi lutut saya sudah mengunci dan memerlukan operasi, saya mulai mencari tahu cara operasi meniskus dengan BPJS. Awalnya saya mengira prosesnya cukup sederhana. Ternyata, saya harus melewati berbagai tahapan administrasi, rujukan, hingga pemeriksaan kesehatan sebelum akhirnya menjalani operasi meniskus dengan BPJS di RSPAD Gatot Soebroto.
Melalui artikel ini, saya ingin berbagi pengalaman sekaligus memberikan gambaran bagi teman-teman yang mungkin sedang berada di situasi yang sama.
Sebelum sampai pada tahap ini, saya sudah menceritakan bagaimana awalnya lutut saya mengalami cedera dan mengapa saya sempat memilih fisioterapi daripada operasi.
Baca juga:
- Saya Kira Hanya Kelelahan, Ternyata Meniskus Saya Robek
- Meniskus Robek Harus Operasi? Ini Alasan Saya Memilih Fisioterapi
Mengapa Saya Memutuskan Menjalani Operasi Meniskus dengan BPJS?
Saat kontrol ke dokter di RS Mayapada Kuningan, beliau menjelaskan bahwa kondisi lutut saya sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan fisioterapi. Lutut saya semakin sulit ditekuk dan mulai sering terkunci. Menurut beliau, tindakan operasi merupakan pilihan yang paling tepat.
Sebenarnya saya memiliki asuransi kesehatan swasta. Namun, biaya operasi artroskopi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp126 juta tidak ditanggung sepenuhnya oleh asuransi tersebut. Selisih biaya yang harus saya tanggung masih sangat besar.
Melihat kondisi itu, dokter kemudian menyarankan saya menggunakan BPJS Kesehatan.
Saya pun setuju. Sayangnya, saat itu BPJS saya justru belum bisa digunakan.
BPJS Saya Ternyata Belum Bisa Digunakan
Awalnya BPJS saya terdaftar di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Pasar Minggu.
Namun, ketika adik saya mengurus perpindahan fasilitas kesehatan orang tua, ia tanpa sengaja memindahkan seluruh anggota keluarga yang berada dalam satu Kartu Keluarga. Akibatnya, FKTP saya ikut berpindah ke Lampung.
Padahal saya sudah lama berdomisili di Pancoran, Jakarta Selatan.
Saya kemudian mengajukan perpindahan FKTP ke fasilitas kesehatan yang berada dekat tempat tinggal saya. Sayangnya, perpindahan tersebut tidak langsung aktif. Saya harus menunggu sekitar satu bulan hingga perubahan fasilitas kesehatan benar-benar berlaku.
Rasanya cukup berat. Di satu sisi lutut saya membutuhkan tindakan operasi, tetapi di sisi lain saya tidak punya pilihan selain menunggu proses administrasi selesai.
Alur Operasi Meniskus dengan BPJS
Setelah BPJS saya aktif kembali, barulah saya memulai seluruh proses pengobatan menggunakan BPJS. Ada alur yang harus dilewati.
Jika kita baru pertama kali menggunakan BPJS untuk operasi, sebaiknya pahami terlebih dahulu alur pelayanan dan sistem rujukan yang dijelaskan pada situs resmi BPJS Kesehatan. Informasi tersebut membantu saya memahami tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya bisa menjalani operasi.
1. Datang ke FKTP Terlebih Dahulu
Langkah pertama adalah datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sesuai dengan data BPJS yang sudah aktif.
Di sana dokter memeriksa kondisi lutut saya dan memastikan bahwa saya memang memerlukan penanganan dokter spesialis ortopedi. Setelah itu saya diberikan surat rujukan ke rumah sakit tingkat lanjutan.
2. Mendapat Rujukan ke Rumah Sakit Tingkat Lanjutan
Banyak orang mengira kita bisa memilih rumah sakit mana saja saat menggunakan BPJS.
Padahal tidak demikian.
Rumah sakit rujukan disesuaikan dengan layanan spesialis yang tersedia serta sistem rujukan BPJS.
Awalnya saya berharap bisa dirujuk ke rumah sakit yang lokasinya paling dekat dari rumah. Namun, rumah sakit tersebut tidak memiliki dokter spesialis ortopedi. Akhirnya saya mendapatkan rujukan ke RS UKI Cawang.
Di RS UKI Cawang saya kembali diperiksa oleh dokter ortopedi.

3. Mendapat Rujukan ke RSPAD
Setelah memeriksa kondisi lutut saya, dokter di RS UKI Cawang memberikan surat rujukan ke RSPAD Gatot Soebroto.
Beliau juga berpesan agar saya mencari dokter subspesialis Hip and Knee, karena kasus robekan meniskus saya membutuhkan penanganan tersebut.
Saat itulah perjalanan saya menuju operasi benar-benar dimulai.
Dokumen Operasi Meniskus dengan BPJS yang Perlu Disiapkan
Berdasarkan pengalaman saya, berikut dokumen yang perlu dipersiapkan:
- KTP.
- Kartu BPJS Kesehatan yang masih aktif.
- Surat rujukan dari FKTP.
- Surat rujukan dari rumah sakit tingkat lanjutan.
- Hasil pemeriksaan sebelumnya, seperti MRI atau rontgen jika sudah pernah melakukannya.
Sebaiknya semua dokumen disimpan dalam satu map agar tidak ada yang tertinggal saat berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.
Pengalaman Operasi Meniskus dengan BPJS di RSPAD
Sesampainya di RSPAD, saya harus mendaftar sebagai pasien baru.
Membuat Nomor Rekam Medis
Langkah pertama adalah membuat nomor rekam medis. Nomor ini akan digunakan setiap kali saya berobat di RSPAD.
Prosesnya cukup cepat, kemudian saya diarahkan menuju bagian administrasi.
Administrasi dan Verifikasi BPJS
Di bagian administrasi saya menyerahkan:
- Surat rujukan.
- KTP.
- Kartu BPJS.
Setelah itu petugas meminta saya melakukan verifikasi sidik jari sebagai bagian dari proses administrasi pasien BPJS.
Pemeriksaan Awal Sebelum Bertemu Dokter
Sebelum bertemu dokter, saya menjalani pemeriksaan awal berupa:
- tekanan darah,
- denyut nadi,
- berat badan,
- tinggi badan.
Setelah semua selesai, saya mendapatkan lembar pengantar untuk masuk ke poli ortopedi.
Satu hal yang saya pelajari selama menggunakan BPJS adalah jadwal kontrol mengikuti antrean yang sudah ditentukan. Dalam kasus saya, jadwal kontrol ke dokter diberikan sekitar satu minggu sekali.
MRI dan Persetujuan Operasi

Saat bertemu dokter Hip and Knee di RSPAD, beliau kembali memeriksa kondisi lutut saya.
Meski saya sudah pernah menjalani MRI sebelumnya, dokter meminta saya melakukan MRI kembali agar mendapatkan gambaran kondisi lutut yang paling terbaru.
Saya pun menjalani MRI sesuai jadwal.
Hasil MRI tidak langsung dibahas pada hari itu juga. Saya harus kembali pada jadwal kontrol berikutnya.
Tiga hari kemudian saya kembali bertemu dokter.
Beliau menjelaskan hasil MRI dan memastikan bahwa robekan meniskus saya memang sudah memerlukan tindakan artroskopi.
Saat itulah dokter menyetujui saya untuk menjalani operasi.
Pemeriksaan Sebelum Operasi Artroskopi
Sebelum operasi dilakukan, saya masih harus melewati beberapa pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tubuh saya siap menjalani pembiusan dan tindakan operasi.
Pemeriksaan Jantung
Saya menjalani pemeriksaan jantung untuk memastikan tidak ada gangguan yang dapat meningkatkan risiko selama operasi.
Pemeriksaan Paru-paru dan Tes Fungsi Paru
Selanjutnya saya menjalani foto rontgen dada dan tes fungsi paru atau spirometri, yaitu pemeriksaan dengan meniup alat khusus untuk mengukur kemampuan paru-paru.
Tes Darah dan Urine
Saya juga menjalani pemeriksaan darah dan urine.
Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk melihat kemungkinan adanya infeksi, gangguan pembekuan darah, maupun penyakit penyerta yang dapat memengaruhi proses operasi.
Konsultasi Anestesi
Setelah seluruh hasil pemeriksaan selesai, saya menjalani konsultasi dengan dokter anestesi.
Dokter menjelaskan proses pembiusan, menilai kondisi kesehatan saya, serta memastikan bahwa saya layak menjalani operasi.
Karena jumlah pasien di RSPAD sangat banyak, seluruh rangkaian pemeriksaan tersebut cukup melelahkan.
Dalam sehari saya bisa berpindah dari satu poli ke poli lainnya. Meski menguras tenaga, saya memahami bahwa semua pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan operasi berjalan dengan aman.
Akhirnya Saya Mendapat Jadwal Operasi

Setelah semua pemeriksaan selesai, berkas saya dibawa ke bagian yang mengatur jadwal operasi.
Saat itu suasana sudah mendekati Hari Raya Idulfitri.
Awalnya saya diberi tahu bahwa operasi kemungkinan baru bisa dilakukan setelah Lebaran karena jadwal ruang operasi sudah penuh.
Namun, saya mendapat bantuan sehingga jadwal saya dipercepat.
Keesokan harinya saya diminta menjalani rawat inap. Lusa paginya saya dijadwalkan menjalani operasi artroskopi.
Perjalanan yang dimulai dari perpindahan FKTP, mengurus rujukan, berpindah rumah sakit, antre di berbagai poli, hingga menjalani serangkaian pemeriksaan akhirnya membawa saya ke depan pintu ruang operasi.
Malam sebelum operasi, saya hampir tidak bisa tidur. Bukan karena lutut saya semakin sakit. Melainkan karena untuk pertama kalinya saya benar-benar menyadari bahwa beberapa jam lagi saya akan menjalani operasi yang selama ini saya coba hindari.
Bagaimana rasanya masuk ke ruang operasi? Apa yang saya rasakan saat menjalani bius spinal? Dan bagaimana kondisi lutut saya setelah operasi artroskopi?
Semuanya akan saya ceritakan pada artikel berikutnya.
