Aku percaya kebaikan orang tua bisa menempel ke anak.
Aku merantau ke Jakarta sendirian. Nggak punya saudara di kota ini. Nggak punya keluarga yang bisa sewaktu-waktu kudatangi kalau sedang kesulitan. Tapi entah bagaimana, setiap kali berada dalam situasi sulit, selalu saja ada orang baik yang datang membantu.
Bukan sekali dua kali.
Bahkan terlalu sering sampai kadang aku sendiri merasa, “Kok bisa, ya?”
Belakangan aku mulai berpikir, mungkin jawabannya ada di rumah.
Mungkin kebaikan orang tua memang diwariskan kepada anak, bukan dalam bentuk harta, tetapi dalam bentuk cara kita memperlakukan orang lain dan cara kita menjalani hidup.
Pertama kali merantau ke Jakarta
Waktu pertama kali datang ke Jakarta, aku benar-benar sendirian.
Ada seorang mbak yang kutemui dan dia menawarkan aku untuk tinggal di kosnya di daerah Cipete. Katanya, dia akan pulang ke Lampung selama beberapa bulan dan kamar kosnya akan kosong.
“Pakai aja,” kira-kira begitu katanya.
Gratis.
Padahal kami bukan saudara.
Aku akhirnya nggak lama tinggal di sana karena kemudian mendapat pekerjaan di daerah Buncit. Lokasi Cipete cukup jauh dari tempat kerja, jadi aku mulai mencari kos yang lebih dekat.
Sampailah aku menemukan sebuah kos dengan harga yang waktu itu menurutku murah sekali. Hanya Rp350 ribu per bulan.
Kosnya cuma punya tiga kamar dan saat itu baru aku yang menempati. Hari pertama ngekos, aku diberi makan siang dan air minum satu teko.
Awalnya aku pikir, mungkin itu sekadar tanda selamat datang. Ternyata bukan.
Besok paginya, pintuku diketuk. Sarapan. Besoknya lagi, diketuk lagi. Sarapan. Kadang siang dikasih makan. Kadang malam juga.
Aku yang awalnya mengira cuma diberi makan sekali sebagai bentuk keramahan, ternyata justru terus diberi makan.
Sampai bulan Ramadan tiba.
Aku pernah minta tolong dimasakkan untuk sahur. Aku bilang nanti aku bayar. Setelah sekitar 20 hari, aku mau membayar. Tahu berapa yang diminta? Rp100 ribu.
Aku sampai bingung. “Seratus ribu?” Aku sudah makan hampir setiap hari selama sekitar 20 hari, dan yang diminta cuma segitu.
Di situ aku mulai sadar, ternyata tidak semua orang menghitung kebaikan dengan cara yang sama seperti kita. Ada orang yang memang membantu karena ingin membantu. Bukan karena sedang melakukan transaksi.
Ketika harus pindah karena sakit
Beberapa waktu kemudian aku harus pindah kos karena kondisi kesehatan membuatku membutuhkan tempat yang punya dapur. Aku ingin bisa memasak sendiri dan mengatur makanan dengan lebih baik.
Lalu datang lagi sebuah keberuntungan.
Aku mendapat tawaran untuk tinggal gratis di sebuah rumah di perumahan Bona Indah, Lebak Bulus selama beberapa bulan. Gratis lagi.
Buat orang yang sedang berusaha menghemat pengeluaran, ini tentu sangat berarti.
Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar kos bisa aku alihkan untuk kebutuhan lain, termasuk berobat.
Bahkan ketika aku pergi ke Bali untuk mengikuti proses healing dan meditasi, perjalanan itu juga banyak dibantu orang.
Tim Compassion membayarkan perjalanan. Hotel gratis. Makan juga tersedia.
Meditasinya dilakukan di Tanah Lot.
Di sana aku bertemu orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Orang-orang yang awalnya sama sekali nggak kukenal, tetapi dalam waktu singkat rasanya seperti keluarga sendiri.
Aku mulai merasa bahwa hidup ini aneh. Ketika aku merasa sendirian, selalu ada orang. Ketika aku merasa tidak punya siapa-siapa, selalu ada tangan yang terulur.
Pernah juga aku benar-benar nggak punya uang
Ada masa ketika aku resign dari pekerjaan dan beberapa bulan tidak punya pekerjaan tetap.
Sebenarnya aku nggak benar-benar menganggur karena masih bekerja freelance sebagai penulis. Tapi penghasilannya kecil. Kurang lebih cukup untuk membayar kos Rp850 ribu.
Untuk makan? Ya sudah, sebisa mungkin diatur. Anehnya, justru pada masa itu aku sering ditraktir. Ada saja yang mengajak makan. Ada yang tiba-tiba membawakan makanan. Ada yang mentraktir tanpa aku minta.
Kadang aku sampai berpikir, “Kok ada aja, sih?” Sampai akhirnya aku teringat masa kecilku. Dan di situlah semuanya terasa masuk akal.
Bapak dan orang-orang yang datang ke rumah

Waktu kecil, bapakku sering sekali memberi makan orang-orang yang hidup di jalanan. Ada dua orang yang cukup sering datang ke rumah. Namanya Gering dan Petot.
Kadang mereka datang sendiri-sendiri, di waktu yang berbeda. Kadang aku bahkan nggak tahu dari mana mereka datang. Mereka bisa mengetuk-ngetuk pintu atau tiba-tiba muncul di balik kaca rumah.
Dan jujur saja, waktu kecil aku takut.
Kalau mereka datang, bapak biasanya mengambil nasi dan memberikan lauk seadanya.
Aku dulu nggak pernah berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang istimewa. Buatku, itu cuma kebiasaan bapak. Sekarang aku baru mengerti. Bapak sedang mengajarkan sesuatu yang bahkan tidak pernah diajarkan lewat kata-kata. Bahwa kalau ada orang lapar, kasih makan. Sesederhana itu.
Ibu juga begitu
Ibuku juga punya kebiasaan yang dulu sering membuatku kesal. Setiap ada tamu di rumah, mereka hampir selalu diberi makan.
Aku dulu malah sering mengeluh. Karena siapa yang repot? Aku. Apalagi kalau Lebaran. Piring keluar terus. Makanan keluar terus. Setelah itu piring harus dicuci lagi.
Aku dulu berpikir, kenapa sih semua orang harus dikasih makan?
Sekarang aku justru memahami bahwa mungkin itulah salah satu cara ibuku menunjukkan penghargaan kepada orang lain.
Bukan cuma kepada tamu.
Dulu ibu pernah mempekerjakan orang untuk membantu di rumah. Yang paling membuatku kagum sekarang adalah, orang-orang yang pernah bekerja dengan ibu itu masih datang ke rumah setiap Lebaran.
Bahkan ketika ada keluarga kami yang sakit atau sedang punya hajat, mereka datang tanpa harus diundang. Padahal aku sudah besar. Hubungan itu tetap ada.
Aku kemudian sadar, hubungan seperti itu tidak mungkin terbentuk hanya karena seseorang pernah menjadi atasan atau majikan. Ada sesuatu yang lebih dalam. Mereka merasa pernah diperlakukan dengan baik. Dan kebaikan itu ternyata bertahan bertahun-tahun.
Ibu juga memperlakukan pegawai dengan baik
Ketika ibu memegang sebuah jabatan, aku melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan pegawai honorer.
Dia baik kepada mereka. Dia memperhatikan mereka.
Ketika punya kesempatan membantu orang yang kesulitan, ibu juga sering membantu. Setiap salat Id, misalnya, ibu biasanya membawa beberapa amplop. Amplop itu bukan untuk anak-anaknya. Untuk tetangga yang hidupnya sedang sulit.
Dulu aku bahkan pernah berpikir, “Kok orang lain dikasih amplop, aku nggak?” Namanya juga anak kecil. Aku belum mengerti apa-apa.
Sekarang kalau mengingatnya, aku malah tersenyum. Ternyata ada pelajaran yang baru kupahami puluhan tahun kemudian.Ibu sedang mengajarkan bahwa rezeki bukan cuma tentang apa yang kita terima. Ada bagian yang memang harus kita teruskan kepada orang lain.
Lalu aku merantau dan mengalami semuanya sendiri

Setelah dewasa, aku sering bepergian sendirian. Solo backpacking ke berbagai tempat. Dan hampir setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang orang baik.
Salah satu yang paling membekas terjadi ketika aku hendak mendaki Semeru.
Waktu itu aku ketinggalan pesawat. Jakarta sedang macet parah karena long weekend. Aku sudah sampai bandara, tetapi pesawat sudah pergi. Masalahnya, aku sudah tidak punya uang lagi untuk membeli tiket pesawat baru.
Aku akhirnya berniat pulang.
Saat sedang mengurus barang-barang, tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiriku. Dia menunjuk tas carrier yang kugendong.
“Mbak, itu tasnya kebuka.”
Aku membenahi tas.
Kemudian dia bertanya,
“Mbak mau ke Semeru?”
Aku heran.
“Kok tahu?”
Dia tertawa.
“Soalnya mbak mau ke Surabaya dan bawa carrier.”
Aku mengangguk.
“Iya, Mas. Tapi nggak jadi. Ketinggalan pesawat.”
Dia malah bingung.
“Loh, kenapa nggak jadi? Beli tiket lagi aja. Kan sudah diniatin naik Semeru, sudah cuti, sudah sampai bandara juga. Sayang kalau nggak lanjut.”
Aku bilang aku nggak mau memaksakan diri. Aku sudah nggak punya uang untuk beli tiket lagi. Kemudian dia menyuruhku melihat ke arah pintu masuk bandara.
Di sana ada sekitar tujuh orang temannya yang sedang berdiri melingkar. Ternyata mereka juga ketinggalan pesawat yang sama. Dan mereka semua juga mau ke Semeru.
Kami akhirnya ngobrol.
Entah bagaimana, mereka kemudian sepakat untuk patungan membelikan aku tiket pesawat untuk penerbangan subuh berikutnya.
Delapan orang. Membantu satu orang yang bahkan baru mereka kenal: Aku. Sampai transportasi menuju Tumpang pun mereka bayarkan.
Sampai sekarang aku masih ingat kejadian itu. Kadang kebaikan datang dari orang yang bahkan tidak punya alasan untuk berbuat baik kepada kita.
Di negara orang pun aku bertemu orang baik
Aku juga beberapa kali solo backpacking ke negara-negara Asia Tenggara. Dan lagi-lagi, ada saja cerita.
Ada orang yang memberiku roti dan susu. Ada yang memberi uang 50 ringgit. Ada yang menawarkan tempat menginap. Ada yang mentraktir makan. Ada yang membantu ketika aku kebingungan di jalan.
Mereka tidak mengenalku. Aku juga tidak mengenal mereka. Tapi mereka baik. Begitu saja.
Dan semakin sering mengalaminya, aku semakin percaya bahwa mungkin ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “kebetulan”.
Baca juga: Kebaikan yang Terbalas Indahnya Sunset
Bahkan ketika aku sakit, pertolongan itu datang

Tahun ini aku mengalami masa yang cukup berat karena cedera. Ada banyak hal yang harus kulalui: pperasi, pengobatan, biaya, proses pemulihan, dan berbagai hal lain yang tidak mudah.
Tapi lagi-lagi, selalu ada orang yang datang membantu.
Pernah tiba-tiba ada yang mentransfer uang jutaan rupiah. Pernah ada yang membantu supaya proses operasiku bisa lebih cepat.
Ada yang membantu secara finansial. Ada yang membantu dengan tenaga. Ada yang sekadar memastikan aku baik-baik saja.
Dan setiap kali menerima bantuan itu, aku selalu merasa terharu. Karena mereka sebenarnya tidak harus melakukan itu.
Mungkin ini yang dimaksud kebaikan yang menempel
Dulu aku berpikir, orang tua yang baik ya orang tua yang memberikan sesuatu kepada anaknya.
Sekarang aku punya definisi yang berbeda.
Mungkin salah satu warisan terbesar dari orang tua bukanlah rumah, uang, jabatan, atau benda-benda yang bisa diwariskan.
Tetapi cara mereka memperlakukan manusia.
- Bapak yang memberikan nasi kepada orang yang datang ke rumah.
- Ibu yang selalu memastikan tamunya makan.
- Ibu yang memperlakukan orang-orang yang bekerja dengannya dengan baik sampai hubungan itu bertahan puluhan tahun.
- Ibu yang membawa amplop untuk tetangga yang membutuhkan setiap salat Id.
Dulu aku melihat semua itu sebagai hal biasa.
Bahkan beberapa di antaranya pernah membuatku kesal.
Sekarang aku justru merasa sedang memetik hasil dari sesuatu yang dulu mereka tanam.
Aku tidak pernah meminta orang-orang di Jakarta untuk memberiku makan.
Aku tidak pernah meminta orang asing membelikan tiket pesawat.
Aku tidak pernah meminta orang di negara lain memberi aku makanan atau tempat menginap.
Aku juga tidak pernah meminta orang-orang datang membantu ketika aku sedang sakit.
Tapi entah bagaimana, selalu ada.
Mungkin karena sejak kecil aku hidup di lingkungan yang mengajarkan bahwa manusia memang seharusnya saling menolong.
Mungkin juga karena kebaikan memang punya cara sendiri untuk berjalan.
Kita tidak pernah tahu ke mana kebaikan yang kita berikan akan pergi.
Bisa jadi orang yang kita beri makan hari ini tidak pernah membalas kita.
Bisa jadi orang yang kita bantu tidak pernah kembali ke kehidupan kita.
Tapi mungkin kebaikan itu akan menemukan jalan lain.
Bertahun-tahun kemudian.
Di kota yang berbeda.
Melalui orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Dan suatu hari, ketika kita sedang berada di titik paling membutuhkan pertolongan, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan berkata,
“Udah, sini. Gue bantu.”
Saat itulah kita mungkin baru sadar:
ternyata kebaikan orang tua memang bisa menempel ke anaknya.
Bukan karena anaknya selalu beruntung.
Tapi karena sejak kecil, tanpa disadari, anak itu sudah diajarkan bahwa dunia akan terasa sedikit lebih baik kalau kita memperlakukan manusia dengan baik.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita sudah tidak ada, kebaikan itu akan terus berjalan.
Dari kita.
Ke orang lain.
Lalu ke orang lain lagi.
Begitu seterusnya.
