Sebelum mengalami cedera ini, saya hanya mengenal beberapa penyakit yang umum dialami banyak orang, seperti pilek, batuk, demam, tifus, demam berdarah, maag, atau sakit kepala. Kalau berbicara tentang cedera ortopedi, yang terlintas di benak saya hanyalah keseleo atau patah tulang.

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ada cedera bernama meniskus robek atau meniscus tear. Bahkan, saya baru mendengar istilah tersebut setelah mengalaminya sendiri.

Tanggal 7 Januari 2026 menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saat melaksanakan salat Magrib, lutut kiri saya tiba-tiba terasa sangat sakit. Rasa nyerinya menusuk. Ketika berdiri, lutut terasa aneh, seolah-olah ada yang menahan atau memegangnya dari dalam. Langkah saya menjadi berat dan tidak stabil.

Awalnya saya mengira kondisi itu hanya akibat kelelahan. Selama beberapa bulan sebelumnya aktivitas saya banyak sekali. Saya berpikir, mungkin lutut saya hanya membutuhkan istirahat.

Namun, keesokan harinya rasa aneh itu tidak kunjung hilang.

Saat bertugas bersama tim promosi mengunjungi beberapa sekolah, saya menceritakan keluhan tersebut kepada rekan-rekan kerja. Ada yang menduga saya hanya kelelahan sepulang dari Yogyakarta. Ada juga yang menyarankan agar saya memperbanyak konsumsi kolagen dengan makan ceker ayam.

Saya mengikuti saran tersebut. Selama hampir satu minggu saya rutin mengonsumsi ceker ayam. Sayangnya, tidak ada perubahan sama sekali.

Justru rasa sakit semakin jelas. Setiap kali menaiki atau menuruni tangga, lutut kiri terasa seperti ditusuk. Tanpa sadar saya mulai memindahkan hampir seluruh beban tubuh ke kaki kanan. Akibatnya, pergelangan kaki kanan ikut membengkak karena bekerja lebih keras menopang tubuh.

Beberapa hari kemudian saya mendapat tugas menghadiri sebuah workshop di Depok. Saya berangkat menggunakan kereta, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek daring. Saat itu saya masih mampu berjalan meskipun langkah saya mulai menyeret. Lutut terasa sangat berat.

Karena tidak ingin terlihat sakit, saya tetap memaksakan diri menaiki tangga dan berjalan di jalan yang menanjak.

Sepulang dari kegiatan tersebut, rasa nyeri meningkat drastis. Setiap langkah terasa menusuk dan lutut menjadi jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Keesokan harinya saya memutuskan memeriksakan diri ke klinik ortopedi.

Hasil foto rontgen menunjukkan bahwa tulang saya dalam kondisi baik. Namun, pemeriksaan USG menemukan penumpukan cairan yang cukup banyak di dalam sendi lutut. Dokter kemudian melakukan aspirasi atau penyedotan cairan.

Saya masih ingat warna cairan itu. Warnanya kuning pekat menyerupai minyak.

Dokter menduga saya mengalami robekan meniskus (meniscus tear) disertai sinovitis, yaitu peradangan pada lapisan sendi yang menghasilkan cairan sinovial. Saya diberi obat antiinflamasi dan diminta beristirahat.

Sayangnya, setelah beberapa waktu, kondisi lutut tidak juga membaik.

Akhirnya saya memberanikan diri datang sendiri ke RS Mayapada Kuningan setelah mengetahui bahwa polis asuransi kesehatan saya masih aktif. Di sana dokter menyarankan pemeriksaan MRI agar kondisi lutut dapat terlihat lebih jelas.

Hasil MRI menunjukkan bahwa saya mengalami robekan meniskus medial (bagian dalam) dan meniskus lateral (bagian luar) dengan derajat atau grade 3. Pemeriksaan juga menemukan efusi sendi dalam jumlah banyak serta bone bruise atau memar pada tulang paha.

Saat itulah saya benar-benar memahami penyebab nyeri yang selama ini saya rasakan.

Apa Itu Meniskus?

Meniskus merupakan bantalan berbentuk huruf C yang terletak di antara tulang paha (femur) dan tulang kering (tibia). Setiap lutut memiliki dua meniskus, yaitu meniskus medial di bagian dalam dan meniskus lateral di bagian luar.

Fungsi meniskus sangat penting, antara lain:

  • Meredam benturan saat berjalan, berlari, atau melompat.
  • Menyebarkan beban tubuh secara merata pada sendi lutut.
  • Menjaga kestabilan lutut.
  • Mengurangi gesekan antartulang.
  • Melindungi tulang rawan agar tidak cepat aus.

Ketika meniskus robek, fungsi-fungsi tersebut akan terganggu. Akibatnya lutut menjadi nyeri, bengkak, terasa berat, bahkan dapat mengalami penguncian sehingga sulit ditekuk atau diluruskan.

Apa Penyebab Meniskus Robek?

Setelah menerima hasil MRI dan berdiskusi dengan dokter, saya mulai memahami bahwa meniskus robek tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya cedera ini, mulai dari aktivitas olahraga hingga kebiasaan sehari-hari yang memberikan tekanan berulang pada lutut.

Secara umum, penyebab meniskus robek meliputi:

  • Cedera saat berolahraga, terutama olahraga yang melibatkan gerakan memutar secara tiba-tiba, seperti sepak bola, basket, tenis, atau bulu tangkis.
  • Proses penuaan yang membuat jaringan meniskus menjadi lebih rapuh sehingga lebih mudah robek.
  • Benturan atau trauma langsung pada lutut akibat kecelakaan atau terjatuh.
  • Penggunaan lutut secara berlebihan (overuse), yaitu ketika lutut menerima tekanan yang sama secara terus-menerus tanpa waktu pemulihan yang cukup.

Dalam kasus saya, dokter menduga penyebab utamanya adalah overuse.

Selama satu semester, saya mendapat jadwal mengajar di lantai empat dan lima hampir setiap hari. Kampus memang memiliki lift, tetapi jumlahnya terbatas. Daripada harus berjalan ke gedung yang memiliki lift dan mengantre cukup lama, saya lebih sering memilih menggunakan tangga.

Bahkan, ketika terlambat masuk kelas, saya beberapa kali berlari menaiki tangga sambil membawa laptop, botol air minum, buku, dan berbagai perlengkapan mengajar. Hampir setiap hari beban tersebut saya bawa di sisi kiri tubuh sehingga tekanan pada lutut menjadi tidak seimbang.

Di sisi lain, saya hampir tidak pernah berolahraga untuk memperkuat otot paha, pinggul, maupun otot inti yang berfungsi menopang sendi lutut. Akibatnya, sebagian besar beban aktivitas sehari-hari diterima langsung oleh sendi lutut dan meniskus.

Menurut dokter, tekanan yang terjadi secara berulang selama berbulan-bulan itulah yang diduga menjadi salah satu penyebab meniskus robek yang saya alami. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa cedera lutut tidak selalu disebabkan oleh kecelakaan atau olahraga berat. Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan terus-menerus tanpa disadari juga dapat memberikan dampak yang serius pada kesehatan lutut.

Pilihan Pengobatan Meniskus Robek

Setelah melihat hasil MRI, dokter menjelaskan bahwa terdapat dua pilihan terapi.

Pilihan pertama adalah pengobatan konservatif melalui fisioterapi.

Fisioterapi bertujuan mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki rentang gerak lutut, serta mengembalikan fungsi sendi. Pendekatan ini umumnya dipilih pada robekan kecil, pasien yang masih dapat beraktivitas, atau mereka yang ingin menghindari tindakan operasi.

Namun, proses pemulihannya membutuhkan waktu lebih lama dan hasilnya sangat bergantung pada jenis robekan, tingkat kerusakan, serta kepatuhan pasien menjalani latihan.

Pilihan kedua adalah operasi artroskopi.

Artroskopi merupakan prosedur bedah minimal invasif dengan sayatan kecil. Dokter memasukkan kamera berukuran kecil ke dalam lutut untuk melihat kondisi sendi secara langsung. Melalui prosedur ini dokter dapat menjahit meniskus yang masih dapat dipertahankan atau membuang bagian yang robek apabila kerusakannya sudah tidak memungkinkan untuk diperbaiki.

Dokter saya lebih menyarankan operasi karena robekan terjadi pada dua meniskus sekaligus, yaitu meniskus medial dan lateral, dengan derajat grade 3. Selain itu, terdapat penumpukan cairan sendi yang cukup banyak serta gejala yang saya alami sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Menurut dokter, tindakan operasi memberikan peluang yang lebih baik untuk mengatasi sumber masalah dibandingkan hanya meredakan gejalanya.

Sayangnya, biaya operasi mencapai sekitar Rp126 juta. Polis asuransi kesehatan saya hanya menanggung sekitar Rp27 juta karena tindakan tersebut masuk kategori pertanggungan tipe 2. Selisih biaya yang harus saya tanggung sendiri masih sangat besar.

Karena pertimbangan finansial, saya akhirnya memilih menjalani fisioterapi terlebih dahulu sambil berharap kondisi lutut membaik tanpa operasi.

Saat itu saya belum menyadari bahwa perjalanan pemulihan saya ternyata masih sangat panjang. Keputusan tersebut menjadi awal dari berbagai tantangan berikutnya yang akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *