Tragedi yang menimpa Juliana Marins di Gunung Rinjani mengguncang dunia pendakian. Pendaki asal Brasil itu ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh saat menuju puncak. Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga memicu ketegangan di media sosial antara warganet Indonesia dan Brasil
Juliana mendaki dalam kondisi lemah dan kelelahan. Sayangnya, pemandu dan rekannya tidak sigap mendampingi. Mereka justru berjalan lebih dulu, meninggalkan Juliana beberapa meter di belakang. Dalam kondisi gunung yang curam dan suhu yang ekstrem, tertinggal dari rombongan sangat berbahaya. Baca selengkapnya di Kompas.com.
Cerita ini membuat saya miris. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul: mengapa pemandu dan teman – temannya tidak ada yang menunggu? Kalau kelelahan harusnya jangan ditinggal, Juliana harus dijaga, kalau perlu digandeng tangannya. Kok tidak ada yang melakukan itu?
Padahal, menurut informasi yang beredar, Juliana adalah pendaki pemula. Ia mendaki tanpa jaket tebal yang memadai. Tasnya—berisi logistik penting—disebutkan tertinggal di atas. Kombinasi antara cuaca dingin ekstrem dan kurangnya perlengkapan membuatnya berada dalam situasi sangat rentan. Keputusan untuk melanjutkan perjalanan dalam kondisi tidak ideal adalah pertaruhan nyawa. Terbukti, pertaruhan itu berakhir dengan kematian.
Sebagai pendaki yang pernah menapaki Rinjani, saya tahu beratnya medan. Saya merasa terpanggil untuk berbagi pengalaman. Ini bukan untuk menyalahkan. Ini untuk merenung dan memastikan tragedi serupa tidak terulang.
Solidaritas: Kunci Keselamatan di Gunung
Pengalaman pribadi saya mengajarkan satu hal: solidaritas adalah mata uang paling berharga di gunung. Saya ingat betul saat tubuh saya menggigil hebat. Ini terjadi ketika mendaki puncak Rinjani. Udara sangat dingin, tenaga saya hampir habis. Saya bahkan sudah tidak bisa bicara. Tangan saya mati rasa, tak sanggup menggenggam apapun.
Dalam keadaan setengah sadar, bayangan wajah ibu, bapak, dan kakak saya terlintas satu per satu. Mereka tidak tahu saya mendaki Rinjani. Begitu pula rekan-rekan kerja saya. Dalam hati, saya hanya bisa meminta maaf karena tidak berpamitan. Saat itu, saya benar-benar pasrah.
Namun, saya beruntung. Seorang pendaki lain sigap menggenggam tangan saya. Ia memapah dan terus memberi semangat. “Nanti di atas tidak dingin lagi. Ayo, terus bergerak,” katanya. Kalimat sederhana itu menyelamatkan mental saya. Ia bukan hanya memapah tubuh saya yang lemah, tapi juga semangat saya yang nyaris padam.

Solidaritas serupa teruji lagi saat perjalanan turun. Kaki saya cedera. Tim kami segera menyusun formasi. Leader berjalan di depan. Saya berada di tengah, dilindungi. Sweeper berada di belakang, memastikan tak ada yang tertinggal. Sang sweeper bahkan membawakan tas saya. Tasnya sendiri sudah berat. Inilah esensi sejati pendakian: tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang sendirian. Prinsip ini seharusnya dipegang teguh setiap pendaki.
Namun, tidak semua pengalaman saya berjalan mulus. Pernah suatu kali, kami terpaksa turun malam hari. Kami melewati Hutan Senaru karena waktu terbatas. Porter kami justru meninggalkan rombongan. Padahal, makanan dan peralatan penting seperti kompor ada di tas mereka.
Kami kelaparan dan kehausan. Kami hanya bisa berbagi sebungkus energen. Kami menyaring air kubangan dengan saputangan. Dua teman bahkan nekat turun ke jurang. Mereka mencari mata air di tengah gelap gulita.
Di tengah kelelahan, beberapa teman mengaku melihat “makhluk tak kasat mata.” Entah itu ilusi atau memang ada energi lain di sana. Pengalaman pahit ini semakin menegaskan: Gunung Rinjani memang indah dan memesona, tapi juga menyimpan banyak tantangan. Medannya berat, cuacanya ekstrem, dan tak jarang menyimpan cerita mistis yang membuat bulu kuduk berdiri. Di balik pesonanya, Rinjani juga menyimpan potensi bahaya yang tak bisa diremehkan. Karena itu, setiap pendaki harus datang dengan persiapan dan rasa hormat pada alam.
Pelajaran Penting untuk Masa Depan Pendakian
Tragedi Juliana Marins di Gunung Rinjani bukan sekadar duka untuk satu orang atau satu negara. Ini menjadi alarm keras bagi semua yang terlibat dalam dunia pendakian. Mulai dari pendaki, pemandu, hingga pemerintah dan pengelola kawasan.
Agar tragedi seperti ini tidak terulang, semua pihak perlu berbenah. Kesadaran harus ditingkatkan. Sistem keselamatan harus diperkuat. Nilai-nilai empati, tanggung jawab, dan solidaritas perlu dihidupkan kembali dalam setiap perjalanan ke gunung.
- Bagi Setiap Pendaki: Siapkan Diri Sepenuhnya
- Kesiapan Mutlak
Pendakian adalah tantangan serius, bukan sekadar aktivitas rekreasi. Fisik harus prima: latihan naik turun tangga, jogging, dan daya tahan sangat penting. Mental juga harus kuat. Pendakian menguji keteguhan hati, kesabaran, dan semangat tim. Saat tubuh mulai lelah dan cuaca berubah, hanya mental yang bisa membuat kita tetap rasional dan bertahan. - Perlengkapan Standar, Bukan Tambahan
Bawa perlengkapan yang memadai dan sesuai standar keselamatan:
- Jaket gunung tahan angin dan dingin
- Jas hujan
- Sepatu tracking yang kokoh
- Headlamp atau senter dengan baterai cadangan
- Sarung tangan, kaos kaki ganti, buff
- Peralatan P3K dan logistik makanan serta air yang cukup
Ingat: di gunung, yang terlihat sepele bisa jadi soal hidup dan mati.
- Pahami Medan, Jangan Asal Naik
Cari tahu karakteristik gunung yang akan didaki. Seperti Rinjani yang memiliki cuaca ekstrem, jalur berpasir yang licin, dan rute panjang yang menguras tenaga. Jangan hanya ikut-ikutan atau modal nekat. Baca jurnal pendakian, peta jalur, dan catatan cuaca. - Singkirkan Ego, Utamakan Nyawa
Puncak memang menggoda, tapi keselamatan jauh lebih penting. Jika tubuh tak kuat, cuaca buruk, atau ada rekan tim yang kesulitan, jangan ragu berbalik arah. Tak ada prestasi dalam mencapai puncak jika itu mengorbankan keselamatan.
- Bagi Tim dan Pemandu: Jangan Hanya Menjadi Penunjuk Jalan
- Empati dan Tanggung Jawab Tanpa Batas
Pemandu dan tim pendukung adalah pengawal utama keselamatan. Mereka bukan sekadar orang yang tahu jalur. Mereka harus hadir secara penuh: peka terhadap kondisi peserta, bisa membaca tanda kelelahan, dan berani mengambil keputusan tegas bila situasi genting. Kepekaan terhadap sinyal kelelahan atau hypothermia harus diasah dan dijadikan refleks. - Manajemen Kelompok yang Ketat
Tim harus memiliki formasi: leader, middle, dan sweeper. Jangan biarkan ada yang jalan sendirian. Komunikasi dua arah, briefing rutin, dan cek kondisi tiap peserta secara berkala harus dilakukan. Tak ada yang boleh tertinggal. Tak boleh ada yang dianggap kuat sendiri.
- Bagi Pemerintah dan Pengelola Kawasan: Perkuat Sistem dan Edukasi
- Sistem Evakuasi Cepat Harus Ada
Teknologi dan logistik penyelamatan harus ditingkatkan. Helikopter evakuasi, jalur alternatif darurat, dan titik pos medis permanen di area rawan harus menjadi prioritas. Jangan tunggu korban berikutnya untuk menyadari pentingnya sistem penyelamatan yang cepat dan tepat. - Edukasi dan Regulasi Ketat
Seluruh operator trekking harus terdaftar dan tersertifikasi. Pendaki harus melalui proses briefing dan screening ketat sebelum naik. Sosialisasi tentang keselamatan pendakian, perlengkapan standar, dan manajemen risiko harus digaungkan secara berkala, tidak hanya saat musim ramai.
Di Gunung, Nyawa Adalah Tanggung Jawab Bersama
Di gunung, nyawa bukan hanya tanggung jawab pribadi. Itu tanggung jawab bersama. Solidaritas, persiapan matang, dan empati adalah kunci. Ini memastikan setiap langkah kita di gunung aman dan bermakna.
Semoga tragedi Juliana Marins di Gunung Rinjani menjadi pengingat penting bagi kita semua, bahwa keselamatan dan empati harus menjadi prioritas utama dalam setiap pendakian. Rest in peace Juliana Marins.
