Beberapa hari lalu, aku berkeliling ke sejumlah sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan di Jakarta. Dari perjalanan itu, aku semakin yakin bahwa ibu kota sebenarnya memiliki banyak sekolah berkualitas, baik negeri maupun swasta.
Para siswanya berprestasi, kreatif, dan penuh semangat. Namun, di balik semua itu, aku juga melihat kenyataan bahwa tidak semua dari mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Salah satu kisah yang paling membekas adalah cerita seorang siswa yang sudah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Rasa bangga tentu menyelimuti dirinya dan keluarganya. Namun, kebahagiaan itu segera berubah menjadi beban ketika mereka mengetahui biaya yang harus dibayarkan mencapai Rp14 juta rupiah. Angka yang sangat besar untuk keluarganya.
Akhirnya, dengan berat hati, ia memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu. Sebagai gantinya, ia berkuliah di Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta, yang hanya mematok biaya sekitar tiga juta rupiah per semester, atau sekitar dua ratus ribu rupiah per bulan. Pilihan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru menjadi jalan keluar yang realistis dan bijak bagi keluarganya.
Dari kunjungan itu, aku kemudian menemukan sebuah fakta menarik: ternyata mayoritas tenaga pendidik di Jakarta adalah lulusan Unindra, baik untuk jenjang S1 maupun S2. Unindra telah membuka jalan bagi ribuan calon guru untuk mewujudkan cita-cita mereka, tanpa terbebani oleh biaya kuliah yang tinggi.

Salah satu contoh yang aku jumpai ada di SMK Negeri 8 Jakarta. Dua orang guru di sekolah itu adalah lulusan Unindra. Mereka bercerita bagaimana pengalaman mereka berkuliah dulu, hingga akhirnya berhasil meraih posisi sebagai guru PNS.
Sebagai seorang guru PNS dan alumni Unindra, mereka menceritakan bagaimana pengalaman kuliah telah mengantarkan mereka pada posisi saat ini. Cerita ini memotivasi para siswa untuk memilih Unindra sebagai tempat melanjutkan pendidikan karena dinilai mampu menjadi landasan awal yang kokoh bagi karier.
Dari cerita-cerita itu aku semakin sadar, Unindra memiliki peran besar dalam mencetak tenaga pendidik berkualitas di Jakarta. Ironisnya, nama kampus ini masih kurang populer di telinga masyarakat luas. Setiap kali aku menyebut “Unindra”, sering kali orang balik bertanya: “itu kampus apa, di mana lokasinya?” Padahal, sangat mungkin guru mereka di sekolah adalah lulusan dari kampus ini.
Perjalanan kecil ini membuka mataku bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh nama besar universitas atau mahalnya biaya kuliah. Justru di kampus yang sederhana seperti Unindra, lahirlah banyak pendidik hebat yang kini mengabdi di berbagai sekolah di Jakarta.
Meskipun tidak semua siswa nantinya melanjutkan studi ke Unindra, banyak di antara mereka bisa menembus perguruan tinggi negeri berkat didikan guru-guru yang menimba ilmu di sana. Dan dari sinilah aku menyadari, Unindra adalah salah satu pilar penting pendidikan di Jakarta, meski kerap luput dari perhatian.
Meski dikenal luas sebagai kampus yang mencetak banyak tenaga pendidik, Unindra kini juga membuka program studi di berbagai bidang lain. Ada Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Bisnis Digital, Manajemen Ritel, hingga Desain Komunikasi Visual. Hal ini menunjukkan bahwa Unindra terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, memberikan kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memilih jalur karier sesuai minat dan bakat mereka.

Saat ini, penerimaan mahasiswa baru di Unindra untuk Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 masih dibuka hingga akhir Agustus 2025. Bagi yang tertarik, informasi lengkap dan pendaftaran bisa dilakukan secara online melalui situs resmi PMB Unindra: https://pmb.unindra.ac.id/
Pendidikan bukan soal seberapa tinggi menara ilmu yang kita daki, tapi seberapa kuat pijakan yang membentuk langkah kita untuk mencapainya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesempatan bisa tumbuh dari pilihan yang sederhana. Dari sanalah impian besar bisa terwujud.
