Sebagai seorang jurnalis sudahlah tentu saya dituntut untuk banyak melakukan komunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Suku, budaya, bangsa, dan watak.

Saya sendiri selalu mengartikan hal ini sebagai tantangan dan kesempatan luar biasa yang Tuhan berikan. Saya bisa mengenal mereka lebih luas dan wawasan saya pun bertambah. Juga memperoleh satu teman setiap waktunya.

Bagi saya, ini adalah keuntungan yang didapat dari para jurnalis bila dibandingkan dengan profesi lain, jurnalis adalah yang paling mujur, mengenal dunia ini hanya dengan “komunikasi”.

Saya akan membagikan pengalaman yang luar biasa. Salah satunya adalah obrolan saya dengan seorang pria berkebangsaan Palestina beberapa bulan yang lalu.

Dr. Mahmoud M. Al Hirtani Rangkul Dunia Santuni 2200 Anak Yatim Palestina

Dengan membawa satu amanat rakyat Palestina. Dr. Mahmoed M. Al Hirthani, penggiat Salam Foundation, Al-Aqso University, Gaza, Palestina melakukan roadshow di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Lampung

***
Sore itu (4/3), saya berhasil mewancarai seorang berkebangsaan Palestina di kantor Radar Lampung. Dengan didampingi oleh dua rekannya yang juga dari Palestina dan beberapa ulama Lampung obrolan itupun terjadi.

“Saya datang ke Indonesia seminggu yang lalu. Saya tak pernah istirahat. Selalu ada dakwah dan agenda roadshow. Saya sudah mengunjungi Jakarta, Bandung, Jambi dan sekarang Lampung,” ujar pria ini mengawali perbincangan kami.

Dirinya mengungkapkan misi yang diembannya sama, bersilaturahmi dengan rakyat Indonesia terutama kaum muslim. Untuk merangkul rakyat Indonesia, LSM dan organisasi kemasyarakatan yang lain menghimpun bantuan riil untuk rakyat Gaza. “Saya membawa amanat rakyat Palestina, bahwa kami adalah orang-orang yang punya tanah air. Kami ingin dunia membantu kami memperoleh tanah air,” katanya

Menurutnya, rakyat Gaza juga ingin kaum muslim memahami situasi yang nyata  tentang penderitaan mereka. Karena mereka dibawah penjajahan yang sangat berat. “Sulit bagi jurnalis untuk meng-cover kondisi yang sebenarnya di Gaza,” kata dia.

Di Gaza juga terdapat masjid Al-Aqso, yang terancam hancur. Setiap hari zionis Israel menggali bawah tanah. Mereka berkilah menggali arkeologi, tapi sebenarnya mereka mau menghancurkan masjid Al-Aqso.

“Saya ingin menyadarkan dan membangunkan warga dunia, terutama kaum muslimin bahwa disana ada masjid Al-Aqso. Satu kehancuran sedang mengancam Al-Aqso,” ujarnya mengungkapkan maksud dan tujuannya datang ke Indonesia, khususnya Lampung.

Menurut dia, sejak tahun 2006 keadaan di Gaza menjadi demikian buruk. Justru demokrasi ada dimana Hamas memenangkan pemilu. Menjadikan zionis Israel menghukum rakyat Gaza. Sebab, Hamas dianggap bagian dari teroris dunia. Hamas dianggap bagian teroris dunia.

“Sejak itu Gaza sangat memburuk. Dari situ juga tidak ada makanan, obat-obatan dan listrik hanya hidup delapan jam sehari. Padahal sekolah dan rumah sakit sangat butuh listrik,” paparnya.

Keadaan ini tentu sangat menyakitkan bagi orang-orang Gaza. “Bayangkan sanak-famili sakit memerlukan obat, tapi tidak ada. Kemudian operasi ditunda dan ditundanya tidak tahu kapan,” ungkapnya.

Mahmoed melanjutkan perbatasan Mesir selalu tertutup. Rakyat Gaza yang ingin mendapatkan kesembuhan, berbulan bulan mengantri dan pada akhirnya meninggal. Rakyat gaza pun menjadi sasaran pembunuhan dari darat, laut, dan udara. “Inilah kondisi riil di Gaza,” tandasnya.

Israel, negara militer terkuat nomor lima di dunia ini,  lanjut dia, memiliki perlengkapan senjata terlengkap didunia. Salah satu jenis pesawat tempurnya mampu membawa 1000 ton rudal yang dapat dijatuhkan sekejab membumi hanguskan gaza dan menghancurkan apa yang ada di bawahnya. “Lebih lima juta pengungsi palestina tidak punya tanah air. Ini  adalah kejahatan yang terburuk di dunia,” ujarnya.

Ketika menjawab apa yang diperlukan saat ini. Mewakili yayasan salam yang dikomandoinya, Mahmoed menjelaskan ada tiga kendala yang dihadapi sejak berdirinya tahun 2001. Yakni harus menompang hidup dan menyediakan santunan kepada 2000 anak yatim piatu. Yang besaran hidup untuk perbulannya adalah 20 euro, sekitar 40 dollar, atau sekitar Rp. 300 ribu. “Hanya 302 anak yatim yang baru bias disantuni, sisanya belum,” katanya.

Kemudian kedua yang dilakukan yayasan salam sejak September lalu, menyediakan perlengkapan alat-alat tulis, seperti buku, pensil, tas dan seragam. Sebab sejak ada serangan ini rakyat Gaza tidak memiliki apa-apa. “Meski begitu yang paling menarik adalah orang Gaza tidak pernah berhenti sekolah,” tukasnya.

Ketiga yakni melatih pertolongan pertama kepada 2000 rumah di Palestina. Untuk berjaga-jaga apabila ketika ambulan tidak menjangkau. Tetap bisa menangani orang kritis. “Saya berharap kaum muslimin mau memberikan dukungan riil dan tidak riil, sebab dengan ini rakyat palestina dapat bertahan,” kata dia menutup pembicaraan seraya mengucapkan terimakasih.
***

Sejauh ini, tulisan ini belum dipublikasikan di media. Pada saat itu saya melakukan wawancara lantaran hanyalah tugas dari salah satu redaktur yang kebetulan mendapatkan jatah libur sama seperti saya. Karena saya sudah merencanakan untuk pulang kampung, saya pun mengirimkan tulisan saya via email kepada redaktur lainnya. Tentulah tidak secepat yang dibayangkan karena jarak kantor dengan kampung dua jam. Saya mengirimkan tulisan ini pada pukul 9.00 malam. Tepat pada waktu deadline. Entah kenapa, tulisan saya tidak dimuat dengan alasan sudah melampaui batas deadline. Redaktur pada saat itu berjanji akan memuatnya pada edisi berikutnya. Tapi hingga saat ini tulisan inipun hanya ‘nyangkut’ di email saya-beliau.

Sungguh disayangkan. Jurnalis yang sulit meng-cover tentang kondisi riil di Gaza benar-benar nyata. Namun, bagi siapapun yaang ingin membantu masyarakat Gaza dapat menyaluran donasinya secara langsung ke salam foundation atau lewat email di www.salampal.ps atau melalui telepon di +972597211816/+6012-939822875. Bisa juga melalui rekening, Aqso Working Group.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *