Latih 12 Siswa Lampung, Berharap Kibarkan Merah Putih di Abu Dhabi

Ada yang berbeda di kursus Global Art, Jl. Sultan Agung, Wayhalim, Bandarlampung, kemarin (1/4). Seorang pria keturunan tampak akrab di tengah kerumunan siswa. Siapa dia?

***

Dari luar gedung Global Art kemarin siang terlihat sepi. Namun saat melangkahkan kaki ke dalam, keramaian mulai terdengar. Belasan siswa sekolah dasar (SD) terlihat sibuk dengan robot-robot mini di tangannya.

Dari mulut mereka tidak terdengar bahasa Indonesia yang digunakan dalam percakapan. Hampir seluruhnya menggunakan bahasa Inggris yang cukup aktif.

Di antara mereka, terlihat sesosok tinggi besar, berkulit putih, hidung mancung, dan berkacamata. Sekilas, sudah bisa ditebak pria itu bukan berkebangsaan Indonesia.

Penasaran apa yang sedang dilakukannya, saya mencoba mendekat. ’’Halo!’’ sapa pria itu sambil melambaikan tangan dan tersenyum ramah.

Dialah Mr. Haokan. Pria keturunan Tiongkok-Kazakhstan dari instruktur World Robotic yang sengaja datang ke Lampung untuk mencari 12 pelajar buat mengikuti Olimpiade Robot Internasional di Abu Dhabi pada 19-20 November 2011 mendatang.

Tidak lama kemudian, muncul Head Office CreativKids Tanggerang Gunawan Tunas. Dia pun mempersilakan untuk bergabung. Setelah duduk, Mr. Haokan memperkenalkan dirinya. ’’Ayah saya berkebangsaan Kazakhstan. Ibu saya Tiongkok. Tetapi, saya hidup dan dibesarkan di Tiongkok,’’ paparnya.

Tidak lama berselang, Mr. Haokan mulai bercerita. Dituturkan, ia belajar robot sejak duduk di sekolah dasar. Dirinya belajar secara otodidak.  ’’Sejak kecil saya suka fisika, matematika, dan robotik. Saya kemudian melanjutkan kuliah di University of Malaysia dengan konsentrasi fisika,’’ ujarnya.

Banyak karya yang telah dihasilkannya. Antara lain Ultimate Grabber Bot, Michael Jordan Bot, Super Stair Climber, dan Shooter. ’’Di antara karya saya, tidak ada yang unggul. Sebab yang namanya teknologi terus berkembang dan saya ingin terus membuat robot terbaik,’’ ujarnya merendah.

Tetapi yang jelas, robot-robotnya diperuntukkan educative, fisika dan matematika. Kenapa ke Lampung? Ditanya seperti itu, Haokan mengatakan, dirinya tergerak untuk mengajarkan robotika kepada anak-anak

’’Itu agar mereka dapat mewakili Indonesia di olimpiade tingkat internasional November nanti. Apalagi banyak anak Lampung yang gemar dan jago membuat robot,’’ bebernya.

Hingga akhirnya, lanjut Haokan, ia mulai memfokuskan diri pada 12 anak didik Global Art. Selama empat hari di Lampung, yakni dari 29 Maret hingga 1 April, ia dibuat terkagum-kagum dengan ke-12 siswa itu.

’’Hebatnya, anak-anak Lampung sangat haus dengan pendidikan. Mereka sangat antusias untuk belajar,’’ ungkapnya.

Semangat ini yang akhirnya membuat Haokan makin termotivasi mencurahkan ilmunya kepada anak-anak tersebut. ’’Menariknya lagi, di Lampung dari kepala sekolah, yayasan, dan orang tua mau mendukung,’’ ujarnya.

Haokan mengaku Lampung adalah daerah kedua yang dijajakinya setelah Jakarta. Rencananya sesudah ini, dia akan terbang ke Surabaya. Tujuannya, sama seperti di Lampung. Melatih anak-anak yang akan mengikuti olimpiade tingkat internasional itu.

Haokan sendiri sudah berada di Indonesia kurang lebih empat tahun. Kini dia bersama tiga anak serta istrinya tinggal di Jakarta. ’’Sebelumnya saya berkeliling ke berbagai negara. Di antaranya Tiongkok, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam,’’ tuturnya.

Tetapi, menurut dia, negara yang paling disukainya adalah Indonesia. Baginya, anak-anak Indonesia sangat antusias dan bersemangat dalam belajar serta mempunyai potensi untuk bisa lebih hebat dari negara-negara maju.

’’Selagi masih dibutuhkan, saya mau tetap di Indonesia, dan selama mungkin saya ingin di sini,” tegasnya.

Sejauh ini, sudah banyak anak didiknya yang mendapatkan juara robotik di tingkat nasional dan internasional. Seperti pada 2009, dia bisa membuat anak-anak Indonesia menang dalam olimpiade robotik di Korea.

Dia berharap pada 19-20 November di Abu Dhabi, anak-anak Indonesia dapat kembali memenangkannya. ’’Saya ingin mereka bisa mengibarkan bendera merah putih lagi di hadapan masyarakat internasional,’’ ungkapnya.

Sementara, Gunawan mengatakan, lembaganya yang berpusat di Jakarta itu tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera dengan jumlah 38 cabang. ’’Di CreativKids, instrukturnya dari luar negeri. Ini diperuntukkan anak-anak hingga remaja,’’ jelas dia.

  • Terbit pada 2 April 2011 di Koran Harian Radar Lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *