Umur semakin bertambah semakin banyak pressure yang didapatkan dari orang-orang sekitar. Seperti pertanyaan, “kapan menikah?” Enggak di kantor, di rumah maupun di komunitas. Belum lagi tiap hari mesti dipusingkan dengan topik jodoh yang berhamburan di media sosial. Seolah hidup itu enggak ada topik lain selain jodoh atau menikah.

Mungkin ini kali ya yang bikin hidup akhir-akhir ini terasa membosankan. Kadang kepikiran buat pergi jauh ke tempat yang penduduknya enggak ngebahas soal itu tapi lebih “esensi hidup kita di dunia itu apa?” Bermanfaat buat orang lain, membuat sesuatu perubahan untuk dunia yang lebih baik, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri dari dulu selalu ada pattern bahwa setelah lulus sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak-nikahin anak. Lalu perempuan enggak boleh menikah di atas 30 tahun. Yang takutnya susah punya anak lah, resiko terkena kanker, dan ujung-ujungnya secara sosial akan dikucilkan gitu aja.

Padahal yang namanya hidup orang itu sudah pasti beda-beda. Bisa jadi ada hambatan-hambatan lain di hidup orang bersangkutan, makanya enggak bisa mengikuti pattern tadi. Tapi di sini, hidup orang malah dipaksa sama. Enggak sedikit orang yang akhirnya merasa tertekan ketika menghadapi situasi ini.

Hampir tiap hari lho  dengerin orang curhat tentang “duh kapan aku menikah”, “jodoh aku di mana ya”, “temen-temenku udah pada nikah tapi aku belum”, “ditanyain keluarga mulu, calonnya mana.” Bahkan pernah ikut kajian tentang jodoh yang dateng ada 3000 orang. Hampir 90 persen single dan kedatangan mereka sebenarnya karena sedang mencari solusi atas pressure-nya.

Lama kelamaan aku jadi mikir, sebenernya aku maupun mereka enggak perlu musingin soal ini. Seperti yang aku tulis sebelumnya, hidup orang itu beda-beda. Kalau Tuhan emang belum mengizinkan buat menikah sesuai sama aturan masyarakat, mau gimana?

Abaikan omongan orang. Yang tahu kebutuhan hidup kita adalah kita sendiri. Khawatir ataupun enggak khawatir, toh ujung-ujungnya nanti sama. Kita akan sampai tujuan juga meskipun jalan yang ditempuh teramat pelan. Yang terpenting selalu usaha dan doa.

Daripada galau, alangkah baiknya sekarang isilah waktu dengan hal-hal yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain.

0 thoughts on “Kapan Menikah?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *