3-copy

Akhirnya, saya tiba di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Saya menempuh perjalanan selama dua jam bersama dua orang teman. Mereka adalah Ovi, seorang dokter muda yang kini bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon dan Titin, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Serang. Di dalam mobil, kami mengobrol tentang kasus pelecehan seksual dan gizi buruk yang terjadi di daerah Banten. Kata mereka, kemiskinan menjadi penyebab dari permasalah-permasalahan itu. Kali ini saya ingin membuktikannya sendiri.

“Mobilnya di parkir di sana saja, Teh,” teriak seorang pria muda dari luar mobil, tangannya menunjuk pelataran rumah warga. Ia bernama Muhid, Ketua Pemuda Desa Lontar yang seringkali menginisiasi banyak gerakan untuk desanya.

Muhit tak menyambut kami seorang diri. Dia bersama empat pemuda lainnya. Mereka tampak senang kami datang.  Rencananya sore itu, kami akan diajak bertemu dengan bidan desa. Dari bidan itulah kami akan mendapatkan fakta dan data tentang kasus gizi buruk.

Muhit membimbing kami menuju rumah bidan. Kami melewati lorong-lorong sempit di antara rumah penduduk. Seperti perkampungan pada umumnya, para perempuan berada di teras rumah untuk sekadar mengobrol. Anak-anak mereka bermain bersama.

Tuh lihat, perut anaknya buncit, rambutnya pirang, badannya kurus. Ini tanda-tanda gizi buruk,” ujar Titin. “Di sini banyak gizi buruk,” sahut Muhid. Benar saja, saya tak hanya melihat satu atau dua saja dengan fisik seperti itu. Padahal baru satu gang yang kami lewati. Belum yang lainnya.

Perjuangan Bidan Desa

Bidan Musyamah menyerahkan bantuan susu formula dan makanan tambahan bagi warga Desa Lontar, Tirtayasa, Serang, Banten.

Musyamah baru saja memeriksa ibu hamil. Di ruang berukuran 2×3 meter itulah, ia sehari-hari melaksanakan tugasnya, memantau kondisi kesehatan ibu hamil dan para balita. “Mari-mari masuk apa yang bisa saya bantu,” katanya sembari mempersilahkan kami duduk. Tangannya yang gesit, mengambil tiga botol air mineral. “Silakan diminum. Seadanya, ya.”

Musyamawah adalah Bidan Desa Lontar. Ia lahir dan besar di desa tersebut. Setelah menuntaskan pendidikan bidannya, ia memutuskan untuk mengabdi di desanya hingga sekarang. “Saya capek Teh sebenarnya. Saya seperti berjuang sendiri.”

Kasus gizi buruk di Desa Lontar memang cukup memprihatinkan. Musyamah enggan membuka data berapa banyak jumlah stunting dan gizi buruk di desanya. Tetapi ia sering menemukan anak dengan berat dan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya.

Masyarakat cukup sensitif jika anaknya didiagnosa kekurangan gizi. Mayoritas para ibu menikah di usia muda dengan keterbatasan pengetahuan soal nutrisi. Suami mereka bekerja sebagai nelayan. Meskipun Desa Lontar menghasilkan ikan setiap harinya, anak-anak yang menderita gizi buruk cukup banyak. Masyarakat masih percaya pada mitos, memberi asupan ikan pada anak, akan menyebabkan cacingan.

Jangan harap masyarakat Desa Lontar mengganti protein hewani itu dengan daging-dagingan. Meskipun mereka pun memelihara hewan ternak sekalipun. Masyarakat lebih senang mengonsumsi tempe dan tahu. Makan seadanya.

Musyamah tak hanya memantau kondisi kesehatan para penderita gizi buruk di ruang praktiknya.. Ia tak segan rutin mengunjungi penderita dari satu rumah ke rumah lainnya. Kadang-kadang ia membawa bantuan susu dan makanan tambahan berupa biskuit, yang diperoleh dari pemerintah setiap bulannya.

Musyamah mencoba untuk tidak menyerah meskipun lelah. Selamanya ia akan mengabdi untuk desanya. “Karena saya lahir di sini, saya takkan pernah pergi dari desa ini.”

Para Ibu Balita Gizi Buruk

Salah satu penderita gizi buruk di Desa Lontar, Tirtayasa, Serang, Banten.

Balita itu tergeletak di kasur busa tipis bermotif bunga-bunga. Matanya tertutup, ibu jarinya di mulut bibir. Ia tidur nyenyak sejak dua jam lalu. Di kanan kirinya ada banyak mainan. “Dia tadi kecapekan main, lalu tidur,” ujar Samsiah, ibu balita bernama Naura Shakira.

Naura kini berumur 1 tahun. Balita perempuan ini diketahui gizi buruk, setelah Musyamah menimbang berat badannya dan hasilnya sangat buruk. Hanya 6,4 kilogram sementara panjang tubuhnya hanya 60 sentimeter. Naura kecil berbadan kurus, lebih cocok ditulis usia 6  bulan pada kartu posyandu.

Samsiah menikah pada usia 22 tahun. Saat ini memiliki tiga anak. Setiap hari Samsiah harus menunggu toko. Pada saat hamil, Samsiah tidak mengeluh sakit dan lemas. Tidak muntah-muntah dan ngidam. Semua makanan dilahapnya. Tapi sejak anak ketiganya itu lahir, Samsiah sakit-sakitan. Payudaranya bahkan tak bisa mengeluarkan air susu. Naura malang, terpaksa harus minum susu formula.

Tak jauh dari rumah Samsiah, seorang balita sedang digendong oleh seorang pria. Mereka tampak sedang menikmati laut sore itu. Bersama Ovi dan Musyamah saya mendekatinya. Balita itu tersenyum melihat kedatangan kami. Tubuhnya sangat mungil. Namanya Janis April. Pria yang menggendongnya itu adalah ayahnya – Salim– salah seorang nelayan yang cukup kaya di Desa Lontar. April kini berusia enam bulan. Berat badannya 4,1 kilogram dan tinggi badannya 55 sentimeter. Saat itu ibunya sedang mandi. Sang ayah berganti untuk menjaga.

Syahroni, ibu Janis, menikah dengan Salim pada usia 15 tahun. Dia hamil pada usia 18 tahun. Jangankan memberi asupan yang baik, pada saat mengandung Janis, Sapiah bahkan tidak sadar jika dirinya hamil. “Sempat menolak, saat tahu dirinya hamil,” ujar Sapiah, ibu Syahroni sekaligus nenek Janis.

Gizi Buruk Karena Rendahnya Pendidikan

Gizi buruk biasanya terjadi karena rendahnya pendidikan orang tua.

Titin sudah banyak menemukan kasus gizi buruk di Banten. Menurutnya, penderita gizi buruk terbanyak ada di daerah Lebak dan Pendeglang. Sebenarnya banyak kasus gizi buruk dan stunting di Kabupaten Serang, namun tidak terdata dengan baik. Biasanya daerah dengan banyak penderita gizi buruk memiliki Indeks Pendidikan Manusia yang sangat rendah.

Artinya rendahnya pendidikan berakibat pada stunting dan gizi buruk pada anak. Karena para orang tua, khususnya ibu tidak memiliki cukup pengetahuan tentang pentingnya makanan yang bernutrisi saat hamil. Selain itu pada saat masa tumbuh kembang anak.

Orang tua yang menikah pada usia dini berpotensi besar melahirkan anak-anak gizi buruk. Pernikahan usia dini sendiri bisa berdasarkan suka sama suka, maupun karena paksaan. Saat ini makin marak kasus pelecehan seksual di daerah pelosok. Sementara orang tua korban selalu meminta pemerkosa untuk bertanggung jawab menikahi anaknya.

Saya jadi teringat dengan kisah psikolog yang berpraktik di Yayasan Pulih, Gisella Tani Pratiwi yang pernah menangani kasus serupa. Tirto.id mempublikasikan kisah tersebut pada 13 April 2018 dalam artikel berjudul “Episode Baru Tragedi Penyintas Perkosaan: Paksaan Menikah”. Gisella pernah menangani kasus Dahlia (bukan nama sebenarnya), yang diperkosa oleh temannya sendiri. Dahlia hamil. Orangtuanya memaksa Dahlia menikah di bawah batas usia minimal Undang-Undang (UU) Perkawinan. Dahlia ingin memberontak karena merasa benci dan marah kepada pelaku. Namun, ia tidak berdaya dan harus menerima orang yang memerkosanya sebagai suami. Anak dalam janinnya pun menjadi korban. Dahlia mencoba berkali-kali mengaborsi dengan meminum cairan pembersih lantai.

Menurut Titin, sebenarnya negara sudah mengatur pernikahan. UU Perkawinan memberi batasan minimal usia ideal bagi warga negara untuk menikah, yaitu setelah berumur 21 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, UU Perkawinan membolehkan laki-laki berumur di bawah 19 tahun dan perempuan di bawah 16 tahun untuk menikah, selagi mendapat dispensasi dari pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Agama.

Kementerian Agama (Kemenag) bahkan sudah menggencarkan program bimbingan perkawinan bagi pasangan calon pengantin. “Tapi lagi-lagi itu hanya formalitas,” ujar Titin.

Nikah Dini di Kalangan Perempuan Banten

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010 jumlah kasus pernikahan dini di Banten sebesar 6,5 %. Pernikahan dini banyak terjadi di daerah pedesaan, pendidikan rendah, status ekonomis miskin dan kelompok petani/buruh. Mengutip Radar Banten, 29 November 2016, belasan ribu Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Lebak, masih melakukan pernikahan dini atau menikahkan anaknya di bawah umur. Alasan utamanya karena faktor ekonomi. Orang tua tidak memiliki pilihan sehingga menikahkan putrinya pada usia belia. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Lebak Eka Darmana  mengatakan ada 10-15 ribu KK yang melakukan pernikahan dini di Lebak.

Pernikahan dini juga banyak terjadi di Kabupaten Serang. Mengutip Radar Banten pada 2 Mei 2017, Pengadilan Agama Serang mencatat ada empat permohonan dispensasi nikah di bawah umur selama periode Januari-April 2017. Pemohon menyampaikan beberapa alasan, diantaranya orang tua khawatir anaknya melakukan hubungan intim di luar nikah dan terjebak dalam pergaulan bebas. Permohonan pernikahan di bawah umur tersebut dipenuhi oleh Pengadilan Agama Serang. Kondisi darurat menjadi pertimbangan bagi mereka untuk mengizinkan pernikahan di bawah umur.

Kondisi diperparah dengan pemahaman masyarakat tentang menikah yang tak perlu dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Pernikahan secara agama islam dinyatakan sah, meskipun tidak tercatat secara sipil (hukum negara). “Di sini banyak nikah secara agama, tidak perlu ke KUA sudah sah,” ujar Titin.

Pentingnya Edukasi Gizi Pra Nikah

Direktur Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Doddy Irawan memparkan soal gizi pada Danone Blogger Academi, pada 22 September lalu.

Menikah bukan tentang mempersiapkan pesta. Baju apa yang akan dipakai dan siapa saja yang akan diundang. Pernikahan juga bukan tentang membangun hubungan antara suami dan istri tetapi lebih dari itu yaitu melahirkan keturunan, generasi penerus bangsa. “Oleh karena itu, pentingnya edukasi gizi pra nikah sejak dini,” ujar Direktur Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Doddy Irawan pada saat memberikan materi di Danone Blogger Academi, pada 22 September lalu.

Saat ini, Kemenkes sedang berfokus pada pemahaman soal nutrisi bagi remaja putri. Seringkali remaja putri ingin memiliki tubuh langsing tapi tidak memperhatikan asupan nutrisi. Yang terjadi banyak perempuan menderita anemia. Penyakit anemia merupakan suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah lebih rendah dari jumlah normal. Penyebabnya adalah kekurangan zat besi dan kekurangan vitamin B12 dan folat. Penyakit kronis juga bisa menyebabkan anemia.

Doddy dengan tegas mengatakan perempuan harus mengonsumsi makanan yang seimbang dan menjaga kebersihan diri. Perempuan adalah calon ibu yang akan melahirkan anak. Mereka harus memiliki fisik yang kuat dan nutrisi yang tercukupi. Sebab perkembangan organ-organ tubuh anak sudah terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan janin. Jika kecukupan gizi energi pada orang normal adalah 2100 Kkal, bagi ibu hamil harus ditambah 350 Kkal lagi. Penambahan berat badannya harus di antara 12-16 kilogram dan lingkar lengannya tidak boleh kurang dari 23,5 sentimeter (cm). “Kurang dari itu semua, termasuk kronik,” Doddy kemudian melanjutkan, “yang menyebabkan resiko berat badan lahir anak rendah, panjang lahirnya kurang dari 48 cm, dan lahir premature.”

Doddy berpendapat semua pihak harus bersama-sama mengatasi kasus ini. Guru harus membekali anak didiknya tentang gizi sejak masih di bangku sekolah. Pentingnya mengonsumsi makanan sehat dan melakukan aktivitas fisik. Sebelum pelajaran dimulai sebaiknya melakukan senam kecil terlebih dahulu. Kemenkes sendiri telah membuat banyak program. Salah satunya empat strategi nasional, yaitu mengedukasi masyarakat pentingnya gizi seimbang dan mengonsumsi air mineral, makan makanan yang beraneka ragam sesuai dengan lokal yang dimiliki, suplementasi dan mengajak masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik.

Baik perempuan maupun laki-laki harus memiliki konsep berpikir di masa depan. Rumah tangganya mau seperti apa. Khususnya perempuan, bagaimanapun kondisinya, harus melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IDM). “Saat orangtua memberi formula, sudah membunuh anak,” katanya. Air Susu Ibu (ASI) mengandung zat-zat untuk pertahanan tubuh. Ketika anak tidak diberi ASI, sejak itulah risiko penyakit tidak menular seperti kanker dan gangguan jiwa akan muncul.

Calon orang tua, harusnya membekali dirinya dengan edukasi gizi pra nikah. Jangankan di Banten, edukasi pra nikah jarang dilakukan di kota-kota besar seperti Jakarta. Sonia (24) pada November ini akan melangsungkan pernikahan. Menjelang pernikahannya ia telah menyiapkan mental, fisik dan keuangan. Pesta pernikahannya akan dilangsungkan secara adat yang membutuhkan dana hingga puluhan juta rupiah. Namun, ia enggan melakukan pemeriksaan kesehatan. “Sesuatu yang diawali dengan niatan baik, akan berakhir dengan baik,” ujarnya.

Sonia telah melengkapi persyaratan wajib dan tak wajib dari KUA. Salah satu persyaratan wajibnya adalah mengikuti bimbingan pra nikah. Karena kesibukan sang calon, bimbingan pra nikah akan dilakukan sehari menjelang pernikahan. Begitu juga dialami dengan Kiki (30). Ia menikah pada awal 2017 lalu. Menjelang pernikahan ia tidak memeriksakan kesehatannya ke dokter. Kiki tidak menjalani bimbingan pra nikah. Sebab, Ia sudah meminta kepada KUA, namun sampai hari pelaksanaan akad, KUA tidak menanggapi permintaannya.

Bersyukur kesehatannya tidak terganggu. Bahkan dia hamil beberapa bulan setelah menikah. Ia menjalani aktivitas bekerja dan kuliah magister di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Anaknya lahir dengan selamat dan sehat. Kiki memilih rumah sakit untuk mengimuniasi anak semata wayangnya. Untuk Makanan Pendamping ASI (MPASI), Kiki tak segan bertanya kepada Dokter Spesialis Anak dan Gizi di rumah sakit langganannya.

Dalam memberantas gizi buruk di Indonesia, Bidan Musyamawah, Titin, dan Kemenkes tak mungkin sendirian. Kita memiliki peran untuk memberantas gizi buruk dimulai dari diri kita sendiri.  “Semua itu tidak bisa terdesain begitu saja. Dimulai dari kita. Bicara gizi bicara kita,” begitu kata Doddy.

Pada akhirnya, kunjungan ke Lontar harus saya akhiri.

Perlahan mobil yang saya tumpangi meninggalkan Desa Lontar. Anak-anak melambaikan tangannya kepada saya. Desa Lontar semakin jauh dari pandangan. Sepanjang perjalanan hanya satu yang terbayang: anak-anak yang kekurangan gizi. Mungkin upaya untuk meningkatkan kesadaran butuh waktu, meski demikian, saya diam-diam menyimpan harapan tinggi kepada Bu Bidan. Semoga ia betah dan kerasan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *