Sumber: alergianak.com
Sumber: alergianak.com

Saya pernah datang ke dokter paru-paru di salah satu rumah sakit Jakarta. Pada September 2016, ketika sudah merasa terganggu dengan flu dan batuk setiap kali terkena debu. Saya pikir paru-paru saya terganggu.

“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya dokter.

“Hidung saya sering meler dok.”

“Pada saat kapan?”

“Saat naik angkot, ojek dan naik gunung.”

Dokter kemudian menyuruh saya untuk berbaring. Tangannya memegang stetoskop memeriksa dada saya.

“Tarik napas, buang. Tarik napas, buang.”

Tiga menit kemudian, saya kembali ke tempat duduk.

“Saya akan menjelaskan kenapa kamu begini. Paru-paru kamu bagus. Tapi kamu hyprsensitive (alergi berlebihan) terhadap debu dan dingin. Saya akan memberikan terapi, tapi kamu juga harus jaga kesehatan agar daya tahan tubuh kamu bagus.”

Tiba-tiba saya teringat, ayah dan adik saya juga memiliki alergi yang sama. Beruntungnya mereka tinggal di desa, dengan udara yang masih sangat bagus dan iklim yang sejuk.

Alergi sendiri merupakan respon sistem imun yang tidak normal mengenali bahan-bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain. Kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), alergi memiliki arti perubahan reaksi tubuh terhadap kuman – kuman penyakit atau keadaan sangat peka terhadap penyebab tertentu misal zat, makanan, serbuk, keadaan udara, asap, dan sebagainya, yang dalam keadaan tertentu tidak membahayakan untuk sebagian besar orang.

Di dunia ini banyak sekali orang yang menderita alergi. Saya bahkan memiliki teman yang alergi terhadap seafood dan daging ayam. Kalau dia konsumsi kedua makanan tersebut, kulitnya akan memerah dan gatal-gatal. Menurut Data Organisasi Alergi Dunia (WAO) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 30 – 40 persen masyarakat di dunia mengidap alergi. Hingga 550 juta orang di dunia menderita alergi makanan dan 7,5 persen anak mengalami alergi susu sapi.

20190410_112938
Talkshow #BundaTanggapAlergi yang diadakan oleh Sarihusada di Rumah Maroko, Menteng, Rabu (10 April 2019). Sumber foto: doc. pribadi.

Menurut konsultan alergi dan imunologi anak Prof. Dr. dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A (K), M. Kes, penyebab utama alergi adalah sesuatu yang terhirup atau berupa makanan. Sesuatu yang terhirup itu, di antaranya tungau debu rumah, serbuk sari tanaman, kecoa, serpihan kulit binatang dan jamur. Sementara untuk makanan yang menyebabkan alergi, biasanya susu sapi, kacang kedelai, kacang tanah, tree nuts, makanan laut, gandum, telur, dan ikan.

“Yang sering menjadi pemicu adalah tungau debu rumah, konsumsi susu dan telur,” katanya dalam acara SGM Eksplor Soya yang bertajuk #BundaTanggapAlergi di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat (Rabu, 10 April 2019).

Ada faktor lain yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak, yaitu riwayat alergi pada keluarga, kelahiran sesar, dan polusi udara. Besaran risiko alergi pada keluarga yaitu 40 – 60 persen jika kedua orangtua memiliki riwayat alergi; 20 – 30 persen jika salah satu orangtua memiliki riwayat alergi; 60 – 80 persen jika kedua orangtua memiliki manifestasi sama; 25 – 30 persen jika saudara kandung memiliki riwayat alergi; dan 5 – 15 persen jika orangtua tidak memiliki riwayat alergi.

Gejala alergi dapat terjadi di saluran pernapasan, kulit dan saluran pencernaan. Alergi pada kulit berupa eksim, urtikaria/biduran/kaligata, dan angioderma (bengkak di kelopak mata/bibir). Alergi pada saluran pernapasan adalah hidung berair, bersin dan batuk kronis non infeksi. Sementara untuk saluran pencernaan alergi yang biasa muncul seperti sulit menelan, sering meludah, kolik, muntah, diare, konstipasi, dan gagal tumbuh.

Saya baru tahu, ternyata gejal alergi dan infeksi itu mirip. Lalu bagaimana cara membedakannya? Jika gejala alergi disertai dengan demam. sering terjadi pada siang hari dibandingkan malam hari, dan dahak/ingus berwarna hijau itu bertanda infeksi. Jika sebaliknya, berarti alergi.

Pencegahan Alergi

Kalau begitu bagaimana caranya mencegah alergi sejak dini?

Dengan menerapkan 3K yaitu Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan dapat mencegah terjadinya alergi.

20190410_115310
Sarihusada mengajak #bundatanggapaalergi 3K: Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan. Sumber: doc. pribadi.

Kelahiran prematur dan sesar menjadi penyumbang utama dalam meningkatkan alergi pada anak. Operasi sesar menyebabkan penundaan perkembangan bakteri baik dalam usus. Kondisi tersebut membuat sistem daya tahan tubuh bayi menjadi lemah, sehingga anak berisiko terkena penyakit alergi.

Tidak hanya stunting, konsumsi makanan yang bergizi selama kehamilan, khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan bisa mencegah alergi. Sesudah anak lahir, berikan ASI esklusif selama enam bulan. Setelah anak usia enam bulan, baru berikan makanan padat. Tidak perlu pantang makanan tertentu. “ASI adalah makanan yang sangat bernutrisi mencegah berbagai penyakit,” ungkap Budi.

Selanjutnya, hindarkan anak terpapar asap rokok baik aktif maupun pasif.

Susu Kedelai dan Alergianak.com

Kedelai menjadi sumber nutrisi baik untuk mereka yang alergi susu sapi. Sarihusada berkomitmen untuk mengatasi masalah alergi dengan memproduksi susu sapi soya. Susu tersebut bisa dibuat aneka olahan makanan lezat seperti pudding. Anak pasti akan suka.

Tak hanya itu, Sarihusada juga membuat sebuah platform dan aplikasi untuk mengedukasi masyarakat tentang gejala alergi. Plaftorm dan aplikasi itu adalah Alergianak.com. Menurut Digital Marketing Manager Sarihusada Mediana Herwijayanti, di sana, para orangtua bisa mencari tahu tentang alergi, penyebabnya, dan berkonsultasi langsung dengan para dokter.

Tak hanya itu saja, Sarihusada juga akan segera meluncurkan Facebook Alergi Anak yang bisa diakses pada awal Mei. Dengan cara ini diharapkan para orangtua bisa mengakses info tentang alergi dan alternatif nutrisi. “Ada resep makanan untuk penderita alergi juga loh,” kata Mediana.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *