Saya tidak bermaksud membuat orang panik dan terkonsentrasi dengan corona. Saya hanya ingin kita lebih aware dengan keberadaan virus ini yang penyebarannya lebih cepat dari flu biasa. Sekitar dua minggu yang lalu, kasus corona di Italia hanya tiga, tetapi sekarang sudah ribuan, bahkan pemerintah memutuskan untuk me-lockdown negaranya. Belajar dari kasus-kasus negara lain, model matematika penyebaran corona begini, “jika ada x kasus terdeteksi, maka kasus sebenarnya bisa mencapai 40 kali lipat”. Artinya kasus di Indonesia lebih banyak dari yang diketahui sekarang.

Beberapa waktu lalu, Singapura melaporkan ada enam imported case dari Indonesia, sehingga mereka menutup akses penerbangan ke Indonesia. Disusul dengan Arab Saudi, hingga ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) gagal umroh. Bahkan Australia telah mewanti-wanti warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, ada dua pasien suspect corona meninggal dunia. Satu warga Semarang yang dirawat di Rumah Sakit Kariadi, satu warga negara Singapura yang dirawat di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam, Riau. Pihak rumah sakit menyatakan kedua pasien tersebut negatif corona. Pasien suspect asal Semarang dinyatakan meninggal karena bronkopneumonia dan pasien suspect asal Singapura meninggal karena infeksi paru-paru akut. Pertanyaannya adalah virus apa yang menyebabkan bronkopneumonia dan infeksi paru-paru itu? Malam, sebelum pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertamanya, saya mempertanyakan ini ke salah seorang teman yang tenaga medis. Dia malah tersinggung dengan pertanyaan itu, saya dianggap meragukan kompetensi tenaga medis di Indonesia. “Corona berpotensi pandemi, jadi kalau WHO dan sejumlah negara menuding Indonesia tidak serius dalam menangani masalah corona itu salah,” begitu katanya. Keesokan paginya, breaking news “2 WNI Positif Corona”. Itu pun hasil dari penelusuran satu warga negara Jepang yang terkonfirmasi positif corona di Rumah Sakit Malaysia dan diketahui sebelumnya hadir dalam acara dansa di Jakarta.

Kemarin pemerintah melalui juru bicara untuk kasus corona, Achmad Yurianto mengumumkan jumlah pasien positif virus corona di Indonesia menjadi 69 kasus. Yakin 69 kasus?

Mari kita coba analisis.

Warga negara Jepang datang ke Indonesia pada 14 Februari. Dia bertemu dengan WNI yang terkena corona dalam sebuah acara dansa di Amigos Bar and Cantina, Kemang, Jakarta Selatan. Ada peserta dansa lain di sana, yang berasal dari beberapa negara. Jumlah karyawan Bar yang bertugas saat itu 30 orang. Sejak diketahui WNI yang terkontak langsung dengan warga negara Jepang itu positif corona, pemerintah melakukan pengawasan terhadap peserta dansa dan karyawan bar. Beberapa di antara mereka positif corona. Jika warga negara Jepang, menulari WNI dan baru diketahui ketika di RS Malaysia, lalu bagaimana dengan kondisi penumpang dan kru pesawat yang membawa warga negara Jepang ke Indonesia dan Malaysia? Apakah yakin tidak ada yang tertular?

Pada 28 Februari hingga 1 Maret, di Malaysia ada pertemuan “ijtimak tabligh” yang dihadiri oleh 10.000 orang dari berbagai negara, salah satunya Indonesia yang berjumlah 696 orang. Beberapa peserta tabligh ternyata carrier (pembawa) virus corona. Kini pemerintah Malaysia meminta sekitar 5000 warga Malaysia yang ikut untuk diperiksa. Di Singapura, dua orang yang ikut tabligh positif terkena corona. Dari Brunei, sudah diperiksa 10 orang positif. Sementara sampai detik ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum berencana memeriksa 696 WNI yang hadir dalam tabligh.

Sementara itu setiap hari, banyak orang dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan pengawasan yang tidak ketat. Meskipun bandara-bandara di sejumlah daerah sudah dilengkapi dengan alat pengukur suhu tubuh, saya pikir tetap akan lolos. Kenapa? Budaya masyarakat Indonesia kalau kerja ngobrol, sudah pasti mereka kebobolan, tanpa disadari.

Penyebaran virus corona ini mirip jaringan MLM (Multilevel Marketing). Siapa bawa siapa. Jika ditelusuri terus menerus, angka WNI yang terjangkit corona akan lebih banyak dari sekarang. Masyarakat Indonesia terancam terjangkit corona tanpa penanganan serius seperti yang dilakukan di beberapa negara khususnya Kota Wuhan, China.

Parahnya lagi masyarakat Indonesia kurang aware dengan wabah ini. Mereka santuy alias santai alias bodo amat. Saya yakin mereka terinfeksi corona dipikirnya flu biasa. Ada juga masyarakat Indonesia yang menganggap wabah virus corona hanyalah politik untuk mendapat keuntungan. “Halah … corona, corona itu hoax. Cuma buat politik aja. Mereka untung kitanya buntung. Kagak jualan ya nggak bisa dapet duit. Nggak makan entar,” ujar penjual warteg di samping kantor saya. Seminggu lalu, saya mendatangi kantor pusat organisasi kepemudaan di Jakarta untuk mengajak mereka bekerjasama terkait pencegahan corona. Begini jawabannya, “Kenapa sih corona? Saya lihat itu hanya flu biasa, jumlah yang meninggal juga lebih sedikit dibandingkan jumlah yang berhasil sembuh. Kenapa nggak galang donasi untuk merapi? Warga di sana juga butuh masker. Pokoknya kami santuy lah, nggak khawatir.”

Indonesia perlu lockdown?

Saya tidak pro dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Namun, langkah yang dia ambil untuk mengamankan Jakarta dari Corona itu tepat. Dia mensimulasikan 6000 penderita corona dalam sebulan, lalu merumuskan langkah-langkah yang harus diambil. Anies membentuk tim siaga corona, membuat website jumlah terkini penderita corona berikut dengan lokasi penyebarannya. Kemarin ia mengeluarkan kebijakan untuk menutup sejumlah tempat rekreasi, seperti Kebun Raya Ragunan, Pantai Onrust, Ancol, Monas, dan sejumlah museum. Selama penutupan tempat rekreasi tersebut, pemerintah DKI akan melakukan bersih-bersih dan penyemprotan menggunakan disinfektan. Anies bahkan mengintruksikan perusahaan/intansi memperkejakan karyawan di rumah. Beberapa sekolah dan kampus ditutup untuk mencegah penyebaran.

Pemerintah pusat? Kemenkes dalam hal ini cukup lambat. Kabarnya WHO sudah memberikan 10.000 kit tes kepada Indonesia, namun hanya 840 yang terpakai. Belum ada intruksi jelas mengenai langkah-langkah penanganan corona di daerah-daerah. Wajar jika kemudian Anies mengambil langkah sendiri.

Sejumlah negara di antaranya Italia, Denmark, Kuwait, Wuhan, dan Korea Selatan memberlakukan lockdown terhadap negaranya. Orang tidak diperbolehkan untuk masuk atau meninggalkan sebuah bangunan atau kawasan dengan bebas karena alasan sesuatu yang darurat. Kantor-kantor, sekolah, kampus ditutup. Jalanan lengang. Bahkan Manila dengan 52 kasus corona, menghentikan sementara lalu lintas darat, laut, udara domestik, ke dan dari ibu kota Manila. Masyarakat dikarantina, pemerintah melarang pertemuan warga dalam skala besar, penutupan sekolah selama satu bulan dan karantina komunitas tertentu di mana kasus ditemukan. Untuk itu, Indonesia menurut saya perlu melakukan lockdown untuk membendung virus corona. Minimal menerapkan social distance sejak sekarang. Melihat penyebarannya sangat cepat, tenaga medis pasti kewalahan. Apalagi jumlah tenaga medis dengan penduduk Indonesia tidak sebanding. Begitu tenaga medis kalah, maka angka mortality-nya akan meningkat. Dalam beberapa prediksi yang saya baca, jika virus corona jenis baru ini tidak tertangani sepanjang tahun, maka 3 juta penduduk Amerika akan meninggal dunia dan Eropa dalam sembilan hari akan separah Italia.

Saya harap dalam waktu dekat, pemerintah Indonesia akan mengumumkan virus corona sebagai darurat nasional, menutup akses penerbangan, lalu lintas darat dan laut ke dan dari luar negeri. Memastikan semua kebutuhan pokok, masker, dan hand sanitizer aman tersedia. Serta semua pemerintah daerah memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani semua pasien positif corona.

Gerak pemerintah pusat memang lambat, gaya menteri kesehatan bikin sajumlah orang gemas. Pemerintah DKI mengambil langkah antisipasi dicurigai karena dianggap strategi politik Anies untuk melaju di 2024. Dengan gerak corona yang cepat, tidak melihat siapa saat menyerang, dan belum ada vaksinnya, bukan saatnya saling menyalahkan mencurigai, nyinyir, bully mem-bully. Saatnya kita bersatu padu, kencangkan ikat pinggang, lawan corona!

 

 

One thought on “Corona Is Coming, Lockdown Indonesia Segera”

  1. Hey, my name’s Eric and for just a second, imagine this…

    – Someone does a search and winds up at yusnaeni.com.

    – They hang out for a minute to check it out. “I’m interested… but… maybe…”

    – And then they hit the back button and check out the other search results instead.

    – Bottom line – you got an eyeball, but nothing else to show for it.

    – There they go.

    This isn’t really your fault – it happens a LOT – studies show 7 out of 10 visitors to any site disappear without leaving a trace.

    But you CAN fix that.

    Talk With Web Visitor is a software widget that’s works on your site, ready to capture any visitor’s Name, Email address and Phone Number. It lets you know right then and there – enabling you to call that lead while they’re literally looking over your site.

    CLICK HERE http://www.talkwithwebvisitors.com to try out a Live Demo with Talk With Web Visitor now to see exactly how it works.

    Time is money when it comes to connecting with leads – the difference between contacting someone within 5 minutes versus 30 minutes later can be huge – like 100 times better!

    Plus, now that you have their phone number, with our new SMS Text With Lead feature you can automatically start a text (SMS) conversation… so even if you don’t close a deal then, you can follow up with text messages for new offers, content links, even just “how you doing?” notes to build a relationship.

    Strong stuff.

    CLICK HERE http://www.talkwithwebvisitors.com to discover what Talk With Web Visitor can do for your business.

    You could be converting up to 100X more leads today!

    Eric
    PS: Talk With Web Visitor offers a FREE 14 days trial – and it even includes International Long Distance Calling.
    You have customers waiting to talk with you right now… don’t keep them waiting.
    CLICK HERE http://www.talkwithwebvisitors.com to try Talk With Web Visitor now.

    If you’d like to unsubscribe click here http://talkwithwebvisitors.com/unsubscribe.aspx?d=yusnaeni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *