Setiap hari ratusan warga Italia tewas tanpa pengantaran keluarga. Italia kota maju & indah akan arsitektur bangunanya itu kini berubah, karena keegoisan & kerasnya hati juga pikiran penghuninya sendiri.

Seolah manusia begitu bodohnya, warga negara lain juga berperilaku sama. Tak mengindahkan larangan pemerintah untuk tetap di rumah, mengabaikan virus begitu saja. Dan itu terjadi di sini: Indonesia.

Saya tinggal di Jakarta bisa menyaksikan bagaimana setiap hari warga masih beraktivitas seperti biasa. Masjid-masjid, pasar, warung makan masih ramai, meski kami sudah dikepung oleh belasan pasien positif Corona. Entah berapa banyak yang sudah terpapar dan mereka tak menyadarinya, lalu berkeliaran di jalanan. Di sini saya tinggal di sebuah kost yang bentuknya semi apartemen. Ada sekitar 30 penghuni di sini. Saya sendiri satu kamar berdua dengan seorang teman. Ia dan beberapa puluh penghuni masih pergi bekerja seperti biasa. Banyak perusahaan yang tidak mematuhi intruksi pemerintah untuk bekerja di rumah. Kondisi itu membuat saya khawatir, karena jujur saya memiliki gangguan imun sejak satu tahun ini. Keluarga dan teman-teman meditasi mencoba menenangkan kegundahan saya, “Semua sudah, sedang dan akan baik-baik saja.” Tapi tetap saja perasaan itu belum hilang.

Melihat kasus positif dan meninggal yang kian bertambah, saya membuat keputusan untuk pulang kampung. Apalagi sudah hampir satu tahun saya tidak pulang ke rumah, bertemu keluarga. Saya khawatir tidak bisa melihat mereka lagi.

Semalam sebelum pemerintah mengumumkan kasus positif corona pertamanya, saya bermimpi, Indonesia dilanda wabah corona, puncaknya puasa, dan rekan kerja saya ada yang terinfeksi. Saya sempet menceritakan ini kepada teman dan ditertawai. Satu jam kemudian,  berita 2 WNI positif corona mulai ramai di media sosial. Seminggu yang lalu, Badan Intelegen Negara (BIN) memprediksi puncak wabah corona di Indonesia terjadi pada saat ramadhan. Wakil presiden Maaruf Amin bahkan sudah melarang semua umat muslim mudik lebaran.

Kampung saya memiliki keterbatasan peralatan medis, jarak ke rumah sakit rujukan mencapai 3 jam, saya khawatir akan berdampak buruk pada keluarga. Dan saya di sini pun sendirian, dengan banyak risiko yang harus dihadapi. Virus corona itu nyata. Virus corona itu ada. Mereka menyerang manusia tanpa melihat latar belakang, jenis kelamin, ras, kebangsaan, golongan maupun status. Maka saya harus pulang, bertemu keluarga.

Saya harus melalui banyak pertimbangan untuk menyampaikannya. Keluarga menyambut baik dan memberikan beberapa opsi untuk saya pulang. Tidak boleh via udara, harus darat untuk meminimalisir risiko. Sayangnya siang itu Jakarta hujan deras, saya menunda kepulangan menjadi esok malam. Namun, pagi usai salat subuh, Ibu dan Kakak menelpon, melarang saya pulang.

Ternyata kampung saya me-lockdown-kan sendiri tanpa intruksi dari pemerintah. Padahal pelosok banget. Orang-orang dari luar nggak boleh masuk. Bagi yang memiliki anggota keluarga yang tinggal di US, Jakarta, Malang, Jogja, dan sebagainya harus tetap berdiam diri di tempatnya masing-masing. Tidak ada yang boleh pulang dan warga mematuhi itu. Saya dan Ibu, sampai menangis bebarengan ketika ibu camat melarang saya pulang, demi keselamatan bersama. Rumah-rumah sakit bahkan dibatasi pengunjungnya. Tetangga-tetangga yang terbaring sakit yang dirawat di hospital tak ada yang dijenguk, padahal kampung saya terkenal akan toleransinya. Kalau ada tetangga yang sakit, satu rw bisa ngejengukkin. Saya bahkan sering kewalahan kalau ada keluarga yang dirawat di RS. Disuruh kasih minum buat mereka yang ngejenguk.

Tapi saya lihat yang di kota, negara-negara maju, se-“ndablek” ini. Kalau kata keluarga saya di Kuala Lumpur, kasus positif di sana bertambah terus karena orang-orang bodoh dan degil, meski Sultan sudah menitah.

Semoga kita bisa belajar dari negara Italia dan patuh sama pemerintah. Nggak menyepelakan virus ini. Masa kalah sama warga di kampung, yang rata-rata pendidikannya hanya SMA.

Diam #dirumahaja, Bagaimana Nasib Pekerja Harian?

“Kekhawatiran terhadap virus ini kalah, dengan kekhawatiran saya pada anak dan istri saya tidak makan. Saya juga pengen sehat. Saya nggak ngarep banyak dari pemerintah. Saya hanya ingin selama 2 minggu ke depan. Kebutuhan pokok saya, makan, beras atau mie instan sudah cukup. Saya mau 2 minggu istirahat. Toh saya narik juga sama aja, dari tadi malem saya ngalong, saya hanya narik 8 penumpang. Penghasilannya hanya Rp60.000. Kalau ditanya cukup atau nggak? Nggak usah ditanya.” Begitu ujar salah satu ojek online (ojol) mewakili ojol lainnya.

Ada banyak gambar beredar di sosial media, soal nasib para pekerja harian. “Bagaimana nasib pekerja harian?”

Begini ….. Semua terdampak kok karena Corona, bukan hanya rakyat kecil, tapi juga menengah dan para konglomerat. Kita bisa lihat kan ya di berita-berita, dolar naik, harga saham jatuh. Beberapa industri seperti wisata itu terpukul banget. Hotel-hotel di Bali yang sebelumnya harga per malem bisa Rp7 juta diobral jadi “gratis menginap, hanya bayar administrasi”, “bayar semalam, menginap tiga malam”. Lalu anak-anak rantau nggak bisa pulang dan terancam nggak bisa ketemu keluarga di hari raya, dag-dig-dug setiap kali pemerintah mengumumkan angka positif Corona yang kian bertambah. Kondisi ini tuh nggak hanya terjadi di Indonesia, tapi dunia. Kalau susah kita nggak sendiri. Ada jutaan orang di luar sana, yang bernasib sama. Sudah bukan saatnya mengeluh, tapi turun tangan apa yang bisa kita perbuat agar Indonesia kembali pulih. Kita tentu nggak mau negara kita ini seperti Italia, Wuhan, dan Iran bukan? Yang setiap hari ada ratusan orang tewas. Corona itu nyata ada untuk memusnahkan manusia. Kalau kita masih terus egois, akan ada banyak anak-anak yatim piatu, perekonomian makin anjlok, makin banyak pengangguran, dan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya.

Percayalah …. ini takkan berlangsung lama. Jadi mohon untuk istirahat sejenak. Seraya  berdoa, semua akan baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *